Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Menurut Ahli/Pakar

Pengertian berguru dan pembelajaran menurut ahli/pakar yaitu pokok pembahasan materi Psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Teori Konsep Belajar Dan Pembelajaran menurut andal didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Definisi / pengertian belajar.
2. Definisi / pengertian pembelajaran.

Definisi belajar

Berikut ini yaitu arti belajar yang dikemukakan oleh para ahli, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Menurut Ahli/Pakar
Baca juga : Pengertian Tujuan Belajar Menurut Pakar / Ahli
Menurut Dimyati dan Mudjiono (Sagala, 2012: 13) yang mendefinisikan bahwa siswa yaitu penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.

Kemudian menurut James L. Mursell (Sagala , 2012: 13) yang menyatakan bahwa berguru yaitu upaya yang dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri dan memperoleh sendiri.

Adapun menurut Vygotsky (1978: 134) mengartikan bahwa berguru yaitu suatu acara konstruktivisme dimana siswa merupakan subjek berguru aktif yang menciptakan struktur-struktur kognitifnya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Dalam pembelajaran konstruktivis, kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu dalam membentuk struktur kognitifnya.

Atas dasar-dasar teori berguru menurut andal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian berguru yaitu suatu acara yang dilakukan secara pribadi dan mampu bangkit diatas kaki sendiri dengan mengalami, menjelajahi, menelusuri serta memperoleh dengan diri sendiri dengan menciptakan struktur-struktur kognitif dari pengalaman-pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. (pengertian berguru dan pembelajaran menurut ahli/pakar).

Definisi pembelajaran

Dibawah ini yaitu arti pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

Menurut Munandar (dalam Suyono dan Hariyanto, 2011:207) yang menyatakan bahwa pembelajaran dikondisikan supaya bisa mendorong kreativitas anak secara keseluruhan, membuat penerima didik aktif, mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan berlangsung dalam kondisi menyenangkan.

Kondisi lingkungan sekitar dari siswa sangat kuat terhadap kreativitas yang akan diciptakan oleh siswa. Disaat ketika siswa merasa nyaman, maka tujuan pembelajaran akan lebih mudah untuk dicapai.

Adapula pernyataan oleh Winataputra (2007: 1) yang menyatakan bahwa arti pembelajaran yaitu acara yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas berguru pada diri penerima didik.
Baca juga : Pengertian Pendekatan Pembelajaran Menurut Para Ahli / Pakar
Berdasarkan hal tersebut, maka pembelajaran yaitu upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar, oleh sebab acara pembelajaran sangat berkaitan erat dengan jenis hakikat serta jenis berguru dan prestasi berguru tersebut.

Adapun menurut pendapat Aqib (2013: 66) menyatakan bahwa proses pembelajaran yaitu upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Atas dasar-dasar teori pembelajaran menurut andal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yaitu suatu proses interaksi antara siswa dengan guru dan juga beserta seluruh sumber berguru yang lainnya yang menjadi sarana berguru guna mencapai tujuan yang diinginkan dalam rangka untuk perubahan akan sikap serta teladan pikir siswa.

Demikian pembahasan mengenai pengertian berguru dan pembelajaran menurut ahli/pakar.

Daftar pustaka

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung : Yrama Widya.
Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Surabaya : Rosda.
Udin S. Winataputra. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.
Vygotsky, L.S. 1978. Mind in society : the development of higher psychological Processes. Cambridge, MA : Havard University Press.

Definisi Model Dan Pendekatan Pembelajaran Menurut Para Ahli/Pakar

Definisi model dan pendekatan pembelajaran menurut para hebat atau pakar yaitu pokok pembahasan bahan pelajaran psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Pengertian Model Pembelajaran Dan Pendekatan Pembelajaran menurut para hebat didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Teori konsep model pembelajaran.
2. Teori konsep pendekatan pembelajaran.

Teori konsep model pembelajaran

Pengertian model pembelajaran menurut Jihad dan Haris (2010:25) yang menyatakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rencana atau referensi yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur bahan siswa, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dan dalam rencana pengajaran.
Definisi Model Dan Pendekatan Pembelajaran Menurut Para Ahli/Pakar
Baca juga : Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Menurut Ahli/Pakar
Selanjutnya definisi model pembelajaran menurut Trianto (2007:1) yang mengartikan bahwa model pembelajaran yaitu suatu perencanaan atau referensi yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

Sedangkan arti model pembelajaran menurut Agus (2009: 46) menyatakan bahwa model pembelajaran yaitu landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori berguru yang dirancang berdasarkan analisis terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional kelas.

Kemudian model pembelajaran menurut pandangan Arends dalam Agus (2009: 46) yang mengatakan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya :

1. Tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Tahap-tahap dalam aktivitas pembelajaran.
3. Lingkungan pembelajaran serta.
4. Pengelolaan kelas.

Berdasarkan pengertian, teori konsep / definisi beberapa para ahli diatas mengenai model pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa arti model pembelajaran adalah suatu referensi perencanaan yang digunakan dan berfungsi sebagai pedoman susunan rencana proses pembelajaran (belajar-mengajar) yang akan dilaksanakan.
Baca juga : Tujuan Belajar Menurut Para Ahli

Teori konsep pendekatan pembelajaran

Pengertian pendekatan pembelajaran menurut Syaiful (2003:62) yang menyatakan bahwa pendekatan yaitu suatu pandangan guru terhadap siswa dalam menilai, menentukan sikap dan perbuatan yang dihadapi dengan keinginan dapat memecahkan problem dalam mengelola kelas yang nyaman dan menyenangkan dalam proses pembelajaran.

Dalam proses berguru mengajar, peranan seorang guru sangat penting dalam menentukan arah tujuan dari kegiatan-kegiatan pembelajaran yang akan dijalankan.

Selanjutnya definisi pendekatan pembelajaran menurut Wahjoedi (1999: 121) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yaitu cara mengelola aktivitas berguru dan perilaku siswa biar ia dapat aktif melaksanakan peran berguru sehingga dapat memperoleh prestasi berguru secara optimal.

Sedangkan arti pendekatan pembelajaran menurut Sagala (2005: 68) mengatakan bahwa pendekatan pembelajaran yaitu jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu.

Didalam setiap satuan pendidikan pastinya mempunyai arah dan tujuan untuk dicapai dan diraih. Oleh alasannya yaitu itu, tujuan-tujuan tersebut juga sesuai berdasarkan instruksi atau kode yang telah diberikan oleh pemerintah.

Berdasarkan pengertian, teori konsep / definisi beberapa para ahli diatas mengenai pendekatan pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa arti pendekatan pembelajaran adalah suatu hal yang harus atau wajib dilakukan atau dijalankan oleh guru yang ditujukan kepada siswa biar dapat menumbuhkan suasana belajar yang menarik perhatian siswa dan menyenangkan guna tercapainya proses aktivitas pembelajaran yang telah diinginkan dan direncanakan oleh guru. Demikian pembahasan mengenai definisi model dan pendekatan pembelajaran menurut para hebat atau pakar.


Daftar pustaka

Agus, Suprijono. 2009. Cooperative Learning : Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Sagala, Syaiful. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Wahjoedi. 1999. Jurnal Iptek Olahraga. Jurnal. Jakarta: Pusat Pengkajian dan Pengembangan IPTEK (PPPITOR).

Definisi, Ciri, Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

Definisi model pembelajaran kooperatif, ciri-ciri model pembelajaran kooperatif dan manfaat model pembelajaran kooperatif yaitu tiga pokok pembahasan bahan pelajaran psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Model Pembelajaran Kooperatif menurut para andal didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Pengertian model pembelajaran kooperatif.
2. Teori konsep model pembelajaran kooperatif.
3. Pengertian tujuan belajar.
4. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif.
5. Manfaat model pembelajaran kooperatif.

Pengertian model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu metode atau model pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru. Dengan kata lain bahwa pembelajaran kooperatif yaitu suatu proses pengajaran yang mana para siswa diajarkan (kondisikan) untuk dapat bekerja kedalam kelompok-kelompok yang kecil dan kelompok tersebut bersifat heterogen serta dengan saling sesungguhnya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dalam mempelajari materi-materi pelajaran yang diberikan.
Definisi, Ciri, Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif
Baca juga : Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Menurut Ahli/Pakar
Adapun struktur kelompok yang terdapat pada metode pembelajaran kooperatif yaitu heterogen. Kemudian pada kelompok heterogen tersebut bisa terdiri berdasarkan dari :

1. Campuran latar belakang kemampuan akademik.
2. Jenis kelamin.
3. Suku.
4. Ras.

Hal tersebut berkhasiat semoga siswa bisa mendapatkan perbedaan dan juga bisa bekerja sama pada sahabat yang berbeda latar belakang. Oleh alasannya yaitu itu, metode atau model pembelajaran kooperatif mempunyai aneka macam kegunaan, baik itu manfaat untuk guru maupun manfaat untuk siswa.

Teori konsep model pembelajaran kooperatif

Berikut ini yaitu teori konsep model pembelajaran kooperatif menurut beberapa para ahli yang dapat diuraikan dan dijelaskan sebagai berikut :

Pengertian model pembelajaran kooperatif menurut Hamdani (2011:30) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif yaitu rangkaian aktivitas berguru siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan.

Kemudian definisi model pembelajaran kooperatif menurut Nurhadi (2004:112) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif yaitu pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi berguru guna mencapai tujuan belajar.
Baca juga : Definisi Model Dan Pendekatan Pembelajaran Menurut Para Ahli/Pakar

Pengertian tujuan belajar

Tujuan berguru adalah suatu keadaan dimana keadaan tersebut menjadi sesuatu yang ingin diraih atau dicapai oleh satuan pendidikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan berguru merupakan arah yang dituju atau arah yang di inginkan oleh satuan pendidikan. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai tujuan dari belajar, dapat kalian baca di bawah ini
Baca ini : Pengertian Tujuan Belajar Menurut Para Ahli

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif

Berikut ini yaitu #5 ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Isjoni (2009:62) yang dapat dijelaskan dan diuraikan sebagai berikut :

1. Setiap anggota memiliki peran.
2. Terjadi kekerabatan interaksi pribadi diantara siswa.
3. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya.
4. Guru membantu membuatkan keterampilan-keterampilan personal kelompok.
5. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok ketika diperlukan.

Manfaat model pembelajaran kooperatif

Dibawah ini yaitu #4 manfaat dari penerapan pembelajaran kooperatif menurut hasil penelitian Morgan, dkk (2005) yang dapat dijelaskan dan diuraikan sebagai berikut:

1. Siswa menjadi ikut aktif dalam penyelesaian problem matematika.
2. Siswa lebih termotivasi untuk berhubungan dalam kelompok daripada bersaing secara individu.
3. Siswa lebih mengutamakan rasa ingin tahu proses mencari tanggapan yang benar daripada sekedar pribadi mendapat tanggapan yang benar.
4. Guru lebih menghargai kemampuan setiap siswa dengan melibatkan setiap siswa ke dalam diskusi kelompok.

Berdasarkan pengertian, teori konsep, definisi, tujuan, ciri-ciri dan manfaat model pembelajaran kooperatif oleh para andal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa arti model pembelajaran kooperatif adalah suatu metode, model atau bentuk pembelajaran yang memfokuskan kepada proses atau aktivitas saling bekerja sama dalam melaksanakan aktivitas belajar dengan kelompok-kelompok kecil yang sifatnya heterogen semoga bisa mendapatkan kondisi berguru yang maksimal guna meraih tujuan berguru tersebut.

Demikian pembahasan mengenai definisi model pembelajaran kooperatif, ciri-ciri model pembelajaran kooperatif dan manfaat model pembelajaran kooperatif.

Daftar pustaka

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia.
Isjoni. 2009. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan penerapannya dalam KBK. Malang: UM Press.
Morgan, Dkk. 2005.

Pembelajaran Pendekatan Saintifik Berdasarkan Permendikbud

Metode pembelajaran pendekatan saintifik berdasarkan peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan yaitu pembahasan utama bahan pelajaran psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Pendekatan Saintifik didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Pengertian pendekatan saintifik.
2. #7 kriteria pendekatan saintifik.
3. #5 pengalaman berguru menggunakan pendekatan saintifik.

Pengertian pendekatan saintifik

Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang terdapat pada kurikulum 2013 yang menekankan atau berfokus pada dimensi pedagogik modern pada metodenya pembelajaranya.
Metode Pembelajaran Pendekatan Saintifik Berdasarkan Permendikbud

Adapun proses kegiatan pembelajaran berdasarkan metode pendekatan saintifik akan menyentuh pada tiga ranah, yaitu antara lain ibarat berikut :

1. Sikap.
2. Pengetahuan.
3. Keterampilan.

Sehingga dengan demikian, proses pembelajaran dengan model tersebut dibutuhkan bisa menciptakan prestasi berguru dan melahirkan bibit penerima didik yang bersifat kreatif, inovatif, produktif serta afektif dengan melewati penguatan sikap, penguatan keterampilan dan penguatan pengetahuan yang terintegrasi.
Baca juga : Pengertian Belajar Dan Pembelajaran

#7 kriteria pendekatan saintifik

Dibawah ini yaitu terdapat tujuh kriteria yang ada didalam pendekatan saintifik berdasarkan peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) tahun 2013, yakni yang berbunyi antara lain sebagai berikut :

1. Substansi atau bahan pelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau kebijaksanaan sehat tertentu, bukan sebatas kira- kira, khayalan, legenda atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi antara guru dengan siswa terbebas dari pemikiran subjektif atau kebijaksanaan sehat yang menyimpang dari alur berpikir logis.

3. Mendorong dan menginspirasi siswa untuk berpikir secara kritis, analitis dan sempurna dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan persoalan dan mengaplikasikan substansi atau bahan pelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi penerima didik bisa berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau bahan pembelajaran.

5. Mendorong dan menginspirasi penerima didik untuk bisa memahami, menerapkan dan menyebarkan teladan berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau bahan pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat dipertanggung- jawabkan.

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya.
Baca ini : Pengertian Tujuan Pembelajaran Menurut Ahli

#5 pengalaman berguru menggunakan pendekatan saintifik

Pada lampiran yang tertera pada peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan No. 81A tahun 2013 wacana Implementasi Kurikulum 2013, proses pembelajaran yang menggunakan model atau metode pendekatan saintifik, terdiri dari lima pengalaman berguru pokok yaitu yang berbunyi antara lain sebagai berikut :

1. Mengamati tahap
Mengamati lebih mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Tahap mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.

Proses kegiatan mengamati dalam pembelajaran diawali oleh guru dengan membuka secara luas dan bervariasi kepada siswa untuk melaksanakan pengamatan melalui kegiatan ibarat :

a. Melihat.
b. Menyimak.
c. Mendengar.
d. Membaca.

2. Menanya
Kegiatan menanya dalam kegiatan pembelajaran yaitu mengajukan pertanyaan wacana info yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk menerima info pemanis wacana apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual hingga ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).

Adapun kompetensi yang dibutuhkan dalam kegiatan ini yaitu menyebarkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat. Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada siswa untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau didengar.

3. Mengumpulkan informasi
Kegiatan mengumpulkan info merupakan tindak lanjut dari kegiatan menanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan info dari banyak sekali sumber melalui banyak sekali cara. Untuk itu siswa dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melaksanakan eksperimen.

Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi. Aktivitas mengumpulkan info dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek atau kejadian, kegiatan wawancara dengan nara sumber dan lain sebagainya.

4. Mengasosiasi (menalar)
Kegiatan mengasosiasi, mengolah info dan atau menalar dalam kegiatan pembelajaran yaitu memproses info yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/ eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

Pengolahan info yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman hingga kepada pengolahan info yang bersifat mencari solusi dari banyak sekali sumber yang memiliki pendapat yang berbeda hingga kepada yang bertentangan.

Kegiatan ini dilakukan guna menemukan keterkaitan (relevansi) satu info dengan informasi-informasi yang lainya, menemukan teladan dari keterkaitan info tersebut.

5. Mengkomunikasikan
Pada pendekatan saintifik, guru dibutuhkan dapat memberi kesempatan kepada penerima didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola.

Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai prestasi berguru penerima didik atau kelompok penerima didik tersebut. Kegiatan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran yaitu memberikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.

Demikian pembahasan mengenai metode pembelajaran pendekatan saintifik berdasarkan permendikbud.

Referensi
Peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan No. 81A tahun 2013 wacana Implementasi Kurikulum 2013.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray)

Model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray atau yang disingkat dengan TSTS yaitu pokok pembahasan bahan pelajaran Psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray didalam mencar ilmu pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS).
2. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS).
3. Kelebihan model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS).
4. Kekurangan model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS).

Pembelajaran kooperatif merupakan bukan menjadi suatu gagasan yang gres yang ada pada dunia pendidikan, akan tetapi pada ketika sebelumnya, metode ini digunakan hanya pada beberapa guru saja guna tujuan yang telah di tentukan, yakni misalnya peran dan atau laporan kelompok tertentu.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray)
Baca juga : Definisi, Ciri, Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

Pengertian pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray

Pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) menurut Lie (2007:60) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) atau dalam bahasa indonesia dua tinggal dua tamu yaitu suatu jenis model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan isu dengan kelompok yang lainnya.

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS)

Dibawah ini yaitu #5 langkah-langkah model pembelajaran two stay two stray menurut Lie (2007: 60-61) yang dapat diuraikan antara lain sebagai berikut :
1. Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat ibarat biasa.
2. Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
3. Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan isu mereka ke tamu mereka.
4. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
5. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

Kelebihan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS)

Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yaitu antara lain sebagai berikut :
1. Dapat diaplikasikan pada seluruh kelas atau tingkatan.
2. Belajar siswa cenderung lebih menjadi bermakna.
3. Keaktifan merupakan orientasi utama.
4. Diharapkan agara siswa lebih berani mengutarakan pendapatnya.
5. Menambah kekompakan, kerjasama, serta rasa percaya diri siswa.
6. Kemampuan siswa dalam berbicara dapat ditingkatkan.
7. Membantu akan minat dan prestasi mencar ilmu siswa menjadi meningkat.

Kekurangan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS)

Adapun kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yaitu antara lain sebagai berikut :
1. Waktu yang diharapkan lebih lama.
2. Siswa lebih cenderung tidak menginginkan model belajar berkelompok.
3. Membutuhkan persiapan materi, dana dan tenaga yang banyak bagi guru.
4. Guru lebih cenderung akan merasa sulit dalam pengelolaan kelas.

Demikian pembahasan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS).

Daftar pustaka

Anita, Lie. 2007. Kooperatif Learning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think Pair Share)

Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share atau yang disingkat dengan TPS yaitu pokok pembahasan bahan pelajaran Psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).
2. #3 tahapan dalam pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).
3. #7 langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).
4. #5 kelebihan model pembelajaran think pair share (TPS).
5. #4 kelebihan model pembelajaran think pair share (TPS).

Model pembelajaran kooperatif dengan tipe think pair share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk yang berasal dari Universitas Maryland sempurna pada tahun 1985. Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share yaitu metode pembelajaran yang tergolong kedalam salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang sederhana.

Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS)

Model pembelajaran think pair share yaitu salah satu model (tipe) pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain. Model pembelajaran koperatif tipe think pair share (TPS) ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Keunggulan teknik ini yaitu optimalisasi partisipasi siswa (Lie: 2004).
Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS)
Sehingga dapat disimpulkan bahwa definisi teknik pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) adalah suatu tipe pembelajaran yang menawarkan kesempatan kepada siswa semoga dapat bekerja dengan sendirinya (secara individu) serta dapat juga siswa bekerja sama dengan yang lainnya (siswa lainnya).
Baca juga : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (Two Stay Two Stray)
Adapun definisi pembelajaran kooperatif tipe think pair share menurut Arends (dalam Komalasari, 2010: 84) yang menyatakan bahwa, model pembelajaran think pair share yaitu suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi murid lebih banyak waktu untuk berfikir, untuk merespon dan saling membantu.

#3 tahapan dalam pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS)

Dibawah ini yaitu tahapan-tahapan didalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share menurut Ibrahim (2000:40), yaitu antara lain sebagai berikut :

Tahap 1 : Berpikir (Thinking)
Guru mengajukan pertanyaan yang berafiliasi dengan pelajaran, kemudian meminta kepada siswa untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mampu bangun diatas kaki sendiri untuk beberapa saat.

Tahap 2 : Berpasangan (Pairing)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang teah dipikirkannya pada tahap berpikir. Pada tahap ini setiap anggota pada kelompok membandingkan balasan atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan balasan yang dianggap paling benar atau paling meyakinkan.

Tahap 3 : Berbagi (Sharing)
Guru meminta kepada pasangan untuk menyebarkan dengan seluruh kelas wacana apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan menyebarkan dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan.

#7 langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS)

Adapun dibawah ini yaitu langkah-langkah didalam model pembelajaran think pair share menurut Zainal (2013:24) yaitu antara lain sebagai berikut :

1. Guru memberikan inti bahan dan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Siswa diminta untuk berpikir wacana bahan atau permasalahan yang disampaikan guru.
3. Siswa diminta berpasangan dengan sahabat sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
5. Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah bahan yang belum diungkapkan para siswa.
6. Guru memberi kesimpulan.
7. Penutup.

#5 kelebihan model pembelajaran think pair share (TPS)

Menurut Fadholi (2009:1) yang menyatakan bahwa terdapat #5 kelebihan model pembelajaran think pair share yaitu antara lain sebagai berikut :

1. Memberi murid waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain.
2. Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
3. Murid lebih aktif dalam pembelajaran alasannya yaitu menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
4. Murid memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh murid, sehingga wangsit yang ada menyebar.
5. Memungkinkan murid untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahan yang diajarkan, alasannya yaitu secara tidak eksklusif memperoleh teladan pertanyaan yang diajukan oleh guru serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan bahan yang diajarkan.
Baca juga : Definisi, Ciri, Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif

#4 kelebihan model pembelajaran think pair share (TPS)

Kemudian menurut Fadholi (2009:1) yang menyatakan bahwa terdapat #4 kelemahan (kekurangan) model pembelajaran think pair and share yaitu antara lain sebagai berikut :

1. Jumlah murid yang ganjil berdampak pada ketika pembentukan kelompok, alasannya yaitu ada satu murid tidak mempunyai pasangan.
2. Jika terdapat perselisihan, maka tidak ada penengah.
3. Jumlah kelompok yang terbentuk banyak.
4. Sulit untuk diterapkan disekolah yang rata-rata kemampuan muridnya rendah.

Demikian pembahasan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS).

Daftar pustaka

Anita, Lie. 2004. Cooperatif Learning. Jakarta: Grasindo.
Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
Fadholi, Arif. 2009. Kelebihan & Kekurangan Think Pair Share.
Ibrahim, Muhsin dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.
Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual; Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Model Pembelajaran Klasikal Dengan Pendekatan Saintifik

Model pembelajaran klasikal dengan pendekatan saintifik yakni pokok pembahasan bahan pelajaran Psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Model / Metode Pembelajaran Klasikal berdasarkan Pendekatan Saintifik didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Definisi pembelajaran klasikal.
2. Pembelajaran klasikal menurut mahir / pakar.
3. #5 langkah metode pembelajaran klasikal.

Pengertian pembelajaran klasikal

Didalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) arti klasikal didefinisikan secara gotong royong di kelas. Berdasarkan pengertian tersebut maka model pembelajaran klasikal yakni suatu model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa yang secara gotong royong melaksanakan kegiatan diskusi (tanya jawab) dalam kelompok besar yaitu semua siswa yang ada dalam kelas.
Model Pembelajaran Klasikal Dengan Pendekatan Saintifik
Baca juga : Pengertian Belajar Dan Pembelajaran
Pada model pembelajaran klasikal, guru mendominasi dan menentukan seluruh proses kegiatan pembelajaran antara lain menyerupai :
1. Banyaknya bahan yang akan diajarkan.
2. Urutan bahan pelajaran.
3. Kecepatan guru mengajar.

Dan lain sebagainya sehingga seluruh kegiatan didalam proses pembelajaran sepenuhnya berada di tangan guru.

Pembelajaran klasikal menurut ahli

Pembelajaran klasikal menurut Aunurrahman (2009: 147) yang menyatakan bahwa model pembelajaran klasikal lebih menitikberatkan pada tugas guru dalam menunjukkan isu melalui bahan pelajaran yang disajikan. Model pembelajaran klasikal menggunakan pembelajaran kelas dalam proses pembelajaran.

Adapun menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:69) yang menyatakan bahwa pembelajaran kelas yaitu melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu antara lain :
1. Pengelolaan kelas.
2. Pengelolaan pembelajaran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, model / metode pembelajaran klasikal tidak sepenuhnya berpusat kepada guru saja, akan tetapi tugas siswa juga dituntut secara aktif pada proses kegiatan berguru mengajar.

#5 langkah metode pembelajaran klasikal

Berikut ini yakni #5 langkah model pembelajaran klasikal dengan pendekatan saintifik yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Mengamati
Kegiatan berguru yang dilakukan yakni siswa membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat).

2. Menanya
Kegiatan berguru yang dilakukan yakni siswa mengajukan pertanyaan wacana isu yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk menerima isu komplemen wacana apa yang diamati.

3. Mengumpulkan informasi
Kegiatan berguru yang dilakukan yakni siswa melaksanakan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek atau kejadian, acara wawancara dengan nara sumber.

4. Mengasosiasi (menalar)
Kegiatan berguru yang dilakukan yakni siswa mengolah isu yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

5. Mengkomunikasikan
Kegiatan berguru yang dilakukan yakni siswa memberikan hasil pengamatan dan memberikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis atau media lainnya.
Demikian pembahasan mengenai model pembelajaran klasikal dengan pendekatan saintifik.

Daftar pustaka

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Pengertian, Tujuan Pendidikan Nasional

Pengertian, tujuan pendidikan nasional yakni pokok pembahasan utama bahan pelajaran psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi berguru berikut ini. Adapun sub pembahasan mengenai Pengertian Pendidikan Dan Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang didalam berguru pendidikan psikologi yang akan diuraikan yakni sebagai berikut :

1. Pengertian pendidikan.
2. Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003.

Suatu bangsa atau negara didalam proses perkembangannya, sangat bersahabat sekali hubungannya dengan masalah-masalah pendidikan. Adapun cermin kesejahteraan kehidupan suatu bangsa atau negara dapat diketahui dengan berdasarkan pada indikator tingkat pendidikan masyarakatnya (tinggi rendahnya pendidikan masyarakat suatu negara).
Pengertian, Tujuan Pendidikan Nasional
Baca juga : Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat suatu negara atau bangsa, maka hal tersebut menawarkan bahwa tingkat kelayakan kesejahteraan hidupnya baik, dimana pada masyarakat yang tergolong memiliki pendidikan yang baik (berpendidikan) akan bisa dalam mengatasi permasalahan- permasalahan yang dihadapi serta bisa dalam bereksperimen dan melaksanakan penemuan-penemuan yang baru.

Pengertian pendidikan

Pendidikan yakni suatu proses aktivitas yang berdasarkan dengan metode-metode tertentu yang telah ditentukan sehingga seseorang menerima pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan dan juga pendidikan diperlukan bisa dalam menghasilkan output yang berkualitas.

Tujuan pendidikan nasional

Berikut dibawah ini yakni tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003: 30 perihal sistem pendidikan nasional yang menyatakan bahwa menyerupai dibawah ini :

Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan berbagi insan Indonesia seutuhnya, yaitu insan yang beriman dan bertakwa terhadap Yang Mahakuasa Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan berdikari serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Adapun salah satu dari tujuan pendidikan yakni penanaman akan pengetahuan serta keterampilan yang mana merupakan sebagai bab dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kemudian, menyerupai pada tujuan pendidikan nasional yang sudah diuraikan berdasarkan pada Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 Bab XIII pasal 31 telah disebutkan bahwa :

Dalam ayat 1
Tiap-tiap warga negara berhak menerima pengajaran.
Dalam ayat 2
Pemerintah mengusahakan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.
Baca juga : Pengertian Tujuan Belajar Menurut Pakar / Ahli
Dengan demikian, melalui dunia pendidikan maka seseorang akan menerima ilmu pengetahuan dan juga keterampilan atau keahlian. Oleh karena itu, dengan berdasarkan pada banyak sekali macam jenis karakteristik input yang masuk, maka diperlukan bagaimana pendidikan dapat bisa menghasilkan output (keluaran) yang baik dan juga berkualitas, sehingga hal tersebut menjadi peran dari pendidikan yang tidak bisa diabaikan guna menciptakan output yang berkualitas, baik dan terampil.

Demikian pembahasan mengenai pengertian, tujuan pendidikan nasional.

#2 Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar

#2 faktor yang menghipnotis prestasi berguru menurut para hebat atau pakar ialah pokok pembahasan bahan pelajaran psikologi yang akan dijelaskan dengan lengkap dan detail pada materi belajar berikut ini. Adapun point pembahasan mengenai apa saja hal yang menjadi faktor yang sangat menghipnotis tingkat prestasi belajar didalam berguru pendidikan psikologi yakni antara lain :

1. Faktor yang menghipnotis prestasi berguru menurut Sumadi Suryabrata.
2. Faktor yang menghipnotis prestasi berguru menurut Nana Syaodih Sukmadinata.

Salah satu faktor yang besar lengan berkuasa besar terhadap prestasi berguru seseorang ialah terletak pada konsep diri. Adapun kata konsep diri merupakan berasal dari bahasa Inggris yakni self concept yang mempunyai arti suatu konsep wacana individu itu sendiri yang mana meliputi wacana :
#2 Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar
1. Bagaimana orang memandang,
2. Bagaimana orang memikirkan serta,
3. Bagaimana orang menilai dirinya.

Sehingga tindakan-tindakan yang dilakukan individu tersebut telah sesuai dengan konsep diri yang terdapat pada dirinya.
Baca juga : Pengertian Belajar Dan Pembelajaran
Oleh alasannya ialah itu, konsep diri kemudian dianggap sebagai suatu kunci yang mengatur dan juga mengarahkan tingkah dan perilaku manusia, yang dengan kata lain bahwa, perilaku individu akan sesuai dengan cara individu memandang dirinya sendiri.

Didalam prestasi belajar, menurut Sumadi Suryabrata (2002: 233) pada teori dan konsepnya yang mengklasifikasikan mengenai #2 faktor yang menghipnotis prestasi berguru adalah antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal) yaitu yang terdiri dari :
a. Faktor non sosial
Faktor non sosial menyerupai udara, suhu, cuaca, waktu, tempat, alat-alat yang dipakai untuk belajar.
b. Faktor sosial
Faktor sosial menyerupai faktor manusia.

2. Faktor yang berasal dari dalam diri (internal) yaitu yang terdiri dari :
a. Faktor fisiologis
Faktor fisiologis menyerupai jasmani, keadaan fungsi fisiologis.
b. Faktor psikologis
Faktor psikologis menyerupai perhatian, pengamatan, jawaban fantasi, ingatan, berfikir dan motif.
Baca juga : Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Adapun pendapat lain wacana faktor prestasi berguru menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2003: 162) yang menyatakan dan mengklasifikasikan pada teori dan konsepnya mengenai faktor-faktor yang menghipnotis prestasi berguru ialah antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Faktor-faktor dalam diri individu
a. Aspek jasmaniah
Aspek jasmaniah yang mencakup kondisi dan kesehatan jasmani.
b. Aspek rohaniah
Aspek rohaniah yang menyangkut kondisi kesehatan psikis, kemampuan intelektual, sosial, psikomotorik serta kondisi afektif dan kognitif dari individu.
c. Kondisi intelektual
Kondisi intelektual yang menyangkut tingkat kecerdasan, bakat-bakat baik bakat sekolah maupun bakat pekerjaan.
d. Kondisi sosial
Kondisi sosial yang menyangkut kekerabatan siswa dengan orang lain, baik guru, teman, orang tuanya maupun orang-orang lainnya.
Baca juga : Pengertian Tujuan Belajar Menurut Pakar / Ahli
2. Faktor-faktor lingkungan
a. Keluarga
Keluarga yang meliputi keadaan rumah dan ruang daerah belajar, sarana dan prasarana berguru yang ada.
b. Sekolah
Sekolah yang meliputi lingkungan sekolah, sarana dan prasarana berguru yang ada, sumber-sumber berguru dan media belajar.
c. Masyarakat
Masyarakat yang dimana warganya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan sumber-sumber berguru didalamnya akan menunjukkan pengaruh yang positif terhadap semangat dan perkembangan berguru generasi muda.
Baca juga : Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar Dan Hasil Belajar Menurut Ahli
Demikian pembahasan mengenai #2 faktor yang menghipnotis prestasi berguru menurut para hebat atau pakar.

Daftar pustaka

Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sumadi Suryabrata. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.