Showing posts with label Cerpen Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Keluarga. Show all posts

Jangan Ganggu Keluargaku, Tante Karya Kurnia Ramadhani

JANGAN GANGGU KELUARGAKU, TANTE
Karya Kurnia Ramadhani

Menurut kalian definisi keluarga itu apa? Bagiku keluarga yaitu komponen terpenting dalam kehidupan ini terkhusus ibu dan ayah. Tanpa mereka mungkin kita takkan dapat melihat betapa mengagumkan dunia ciptaan-Nya ini.

Keluargaku itu komplit. Aku memiliki ibu yang perhatian, ayah yang penyayang, dan adik yang amat lucu. Mungkin kehidupanku akan hampa tanpa mereka bertiga di sisiku.

Ibuku yaitu sosok bidadari yang dikirimkan Tuhan spesial untukku. Beliaulah yang senantiasa dengan tabah memberiku pesan yang tersirat serta wejangan yang tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupanku. Yang terpenting ia amatlah sabar.

Ayahku yaitu lelaki perkasa dengan seribu aturannya. Ayahku selalu punya aturan untuk setiap anggota keluarga di rumah kami yang wajib ditaati. Walaupun ayah orangnya super duper sibuk, namun ayah selalu menyempatkan untuk berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga kecilnya. “Pekerjaan memang penting, tapi keluarga tetap nomor satu” itulah semboyan ayahku.

Putri kecil berumur 3 tahun keluarga kami, Tina, ia sangat lucu, menggemaskan, dan begitu pandai. Umur kami terpaut 13 tahun, meskipun rentan umur kami yang sangat jauh, bukan berarti saya yaitu anak yang manja alasannya lama menjadi anak tunggal. Dengan aturan-aturan ayahku saya tumbuh menjadi cendekia balig cukup akal disiplin, saya sangat gembira dengan sosok ayahku, ia yaitu idolaku.

“Happy anniversary ayah, ibu.” Jam 12 sempurna tengah malam saya memberi kejutan kepada kedua orang tuaku. Ibuku terbangun dan tersenyum melihatku, tapi ayah tak ada di kamar. Apa mungkin ayah belum pulang? Biasanya ayah selalu pulang ketika peringatan pernikahannya tiba, dan ayah tidak pernah lupa akan hal itu.
“Ayah belum pulang, mungkin banyak kerjaan di kantor. Makasih ya sayang,” seakan dapat membaca pikiranku, ibu mengeluarkan suaranya. Tapi menyerupai ada yang absurd dengan ibu malam ini, menyerupai ada yang sedang membebani pikirannya, ah sudahlah mungkin ibu hanya kelelahan saja. Ibu mengecup keningku dan menyuruhku untuk kembali ke kamarku.

Pagi harinya ternyata ayah telah menunggu di meja makan.

“Ayah, tadi malam aku….”
“Ayah udah tahu kok, makasih Rina sayang.” Ayah memotong pembicaraanku, dikarenakan telah mengerti yang kumaksud.
“Ibu, Tina mau makan kuenya.” Sepertinya adik manisku ini sudah tidak tabah ingin melahap kudapan manis tar yang ada di hadapannya.
“Tunggu dulu dek, kita harus foto dulu dan upload di instagram.”aku mengeluarkan handphone dan menyentuh ikon kamera. Lalu satu gambar yang memuat wajah bahagia kami berempat berhasil terpampang di instagram milikku. Aku tersenyum mengamati beberapa foto yang telah terabadikan di instagramku, kebanyakan memang foto-foto keluargaku, saya lebih senang memamerkan kegiatan bersama kelurga kecilku dibandingkan memasang foto berdua dengan laki-laki yang sering dilakukan teman-temanku yang lain. Namun, menyerupai ada hal yang absurd di meja makan pagi ini, jarang sekali ayah dan ibuku tidak mengeluarkan dagelan khas mereka ketika sarapan. Tapi pagi ini mereka hanya berdiam diri sambil menikmati makanan masing-masing.

Jilbab putihku berkibar kesana kemari ketika saya keluar dari mobil, sahabatku Fitri, Sinta, dan Rio telah menunggu di gerbang sekolah. Lebih tepatnya Rio bukan sahabatku, ia hanya sahabat laki-laki yang terus mengejarku dan saya senantiasa menolaknya alasannya aturan dari ayahku yang sangat melarang saya untuk berpacaran. Setiap saya menolaknya, saya akan beralibi ia bukanlah tipeku dan laki-laki yang menjadi pacar idamanku itu menyerupai ayahku. Tentu saja Rio sangat jauh dari kriteria itu.

“Tambah cantik aja Rina.” Rio mulai lagi gombalan kadaluarsanya. Aku hanya memutar bola mataku dan mengajak dua sahabatku segera menuju kelas.
“Keluarga kau sweet banget Rin, andaikan saya punya keluarga kayak kamu, iyakan Sin?” kata Fitri dan disambut dengan anggukan kepala dari Sinta. Dua orang sahabatku ini memang kurang beruntung, keluarga mereka sudah tidak lengkap lagi. Fitri yaitu anak yang lahir dari korelasi pra nikah orang tuanya dan sekarang dirinya hanya dirawat oleh neneknya. Sedangkan Sinta, bapaknya meninggalkan dirinya dan ibunya demi perempuan lain. Seringkali mereka mengatakan bahwa mereka iri denganku yang memiliki keluarga lengkap dan begitu kompak.
“Assalamualaikum.” Aku menggerakkan gagang pintuku ke bawah dan mendorong pintunya. Tiba-tiba “pranggggg” terdengar bunyi benda pecah dari arah dapurku, saya terkejut dan segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Kudapati kedua orang tuaku berselisih, gres kali ini saya melihat mereka bertengkar, entah apa yang telah terjadi. Aku bersembunyi di balik tembok dan mendengarkan percakapan mereka.”
“Saya kurang apa Yah sama kamu?” kudengar ada isakan tangis ditengah-tengah kata yang diucapkan ibuku.
“Maafkan ayah bu, ayah khilaf. Ayah gak pernah bermaksud mengkhianati ibu dan anak-anak. Sekarang saya tidak pernah lagi bekerjasama dengan perempuan itu.”
“Bisa-bisanya ayah bermain api di belakang ibu. Sekarang ayah lebih baik angkat kaki dari rumah ini, ceraikan saya dan pergilah bersama perempuan itu.”

Aku menangis dalam membisu ketika mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh kedua orang tuaku. Apakah benar ayahku memiliki perempuan lain di luar sana? Apakah keluargaku juga akan retak menyerupai keluarga kedua sahabatku? Aku teringat akan adikku, dimana dia. Aku mencarinya ke kamar orang tuaku dan kudapati ia sedang menangis tersedu-sedu di sudut kamar, kuhampiri ia dan berusaha menenangkannya.

Jangan Ganggu Keluargaku, Tante Karya Kurnia Ramadhani

Sehabis mengerjakan peran sekolah, saya berjalan menuju kamar orang tuaku dan kulihat ibuku sedang menangis.

“Bu, ibu sayangkan sama saya dan Tina? Kami berdua masih butuh ayah bu, ibu jangan pisah sama ayah. Rina tahu ibu pasti sakit banget tapi bukannya semua orang mampu dapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya bu? Ayahkan juga udah….” Ibu menutup mulutku dan menganggukkan kepala lalu memelukku.
“Kamu benar sayang, kau benar. Maafin ibu yang terlalu egois hingga tidak memikirkan perasaan kalian berdua. Ibu akan suruh ayahmu untuk segera pulang.”

Kehidupan keluargaku kembali berjalan dengan normal, ibuku memang sangat pemaaf, ia bahkan tak pernah lagi mengungkit kesalahan besar ayahku itu. Ayahku juga telah berjanji tak akan mengulangi kesalahan itu lagi. 

Akhir-akhir ini banyak teror menimpa keluargaku, mulai dari pengiriman surat kaleng, beling rumahku yang sering dilempar batu, ibuku yang hampir celaka oleh seseorang, adikku yang tak tahu apa-apapun juga terkena incaran si peneror. Aku tak mengerti maksud semua teror ini, tapi setelah kubaca satu demi satu surat kaleng yang dikirimkan, saya mengira itu semua ulah perempuan yang dulu menjadi selingkuhan ayah. Aku dan keluargaku berusaha untuk tabah mendapatkan semua teroran itu, hingga suatu ketika ada seseorang yang mengomentari postingan instagramku yang kuberi judul “sweet family” orang itu membeberkan duduk perkara keluargaku beberapa bulan yang lalu. Teman-temanku di sekolah sekarang menganggap semua postingan di instagram dan dongeng perihal keharmonisan keluargaku hanyalah omong kosong belaka. Aku sangat malu menampakkan diri di sekolah, saya berusaha mencari tahu siapa yang telah mengirim komentar itu, tapi saya tidak menemukan isu perihal orang itu.

Teleponku berdering membuyarkan lamunanku, nomornya tidak terdaftar di kontak handphoneku. Aku menggeser ikon telepon berwarna hijau.

“Halo assalamualaikum,” 
“Walaikum salam cantik, ini calon ibu tirimu nak. Bagaimana komentar mama di instagrammu, apakah kau suka?”
“Apa maksud anda? Apa anda juga yang beberapa bulan terakhir ini meneror keluarga saya?”
“Kamu ternyata anak yang sangat pintar ya sayang, tidak sia-sia ayahmu merawat kamu”

Tut….tut….tut…. Telepon terputus, beberapa ketika kemudian saya mendapat sms dari nomor yang sama.

“Jl. Salak no. 9 alamat rumah mma syg, kapan2 mampir ya. Jgn lupa bwa ayah kmu.”

Sepulang sekolah saya bertekad untuk mengunjungi rumah orang itu. Sampailah saya di sebuah rumah megah nan indah, kupastikan alamat itu memang benar. Kuberanikan diri memencet belnya dan mengucapkan salam, seorang perempuan cantik yang mungkin lebih muda usianya dari ibu keluar.

“Ternyata kau lebih cantik aslinya daripada di dunia maya. Nama mama yaitu Miranda, kau boleh panggil mama Mira.” Kata orang itu yang ternyata berjulukan Mira, sambil menarik tanganku untuk masuk ke rumahnya.
“Apakah anda pantas untuk saya panggil dengan sebutan mama? Atas dasar apa? Saya tidak punya dan tidak akan pernah punya mama menyerupai anda.”
“Jangan menyerupai itu sayang, sebentar lagi mama akan menjadi episode dari keluarga bahagiamu itu.”
“Anda perlu ingat kata-kata saya, saya tidak pernah sudi bila ayah saya menikah lagi, apalagi dengan perempuan perusak rumah tangga orang menyerupai anda.” Aku berlari keluar dari rumah itu, rasanya sesak sekali berada di sana. Aku berlari sekuat tenagaku tak kupedulikan jilbabku yang awut-awutan alasannya tertiup angin.
“Rina, kau kenapa jalan kaki?” Tak sengaja saya bertemu Rio di jalan, saya hanya membisu tak menanggapi pertanyaannya.
“Sini saya antar pulang. Tenang aja saya gak bakal macam-macam kok.” Rio tersenyum padaku dan saya segera naik ke motornya alasannya memang kakiku sudah pegal.

Aku berterima kasih kepada Rio lalu segera masuk ke rumah dan pribadi menuju kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya mengingat kata-kata yang diucapkan tante Mira kepadaku. Ibu masuk dan duduk di samping ranjangku, saya yang menyadari kehadiran ibuku segera bangun dari tidurku dan memperhatikan wajah ibuku yang sembab alasannya air mata.

“Ayah harus nikahin tante Mira Rin, ibu udah izinin.” Kata-kata yang membuatku bagai tersambar petir.
“Tante Mira hamil sayang. Ayah kau harus tanggung jawab. Tolong beri ayahmu izin untuk menikah lagi nak!”
“Ayah dimna bu?” 
“Di kamar nak.”

Aku menghampiri ayahku di kamarnya dengan linangan air mata yang mengalir deras di pipiku.

“Ayah, Rina mau tanya. Apa Rina selama ini bandel? Apa Rina pernah langgar peraturan yang ayah bikin? Rina pakai jilbab walaupun Rina belum siap alasannya ikut aturan ayah, Rina gak pernah rasain gimana pacaran kayak teman-teman Rina alasannya aturan ayah, Rina gak pernah ikut hang out sama teman-teman Rina alasannya aturan ayah. Apa ada yang pernah Rina langgar yah? Terus kenapa ayah nyakitin perasaan Rina kayak gini, kenapa yah? Apa alasannya didalam aturan ayah tidak ada aturan untuk dilarang selingkuh, makanya ayah mampu dengan leluasa lakuin perbuatan menjijikan itu?”
“Rina stop.” Bunda menyuruhku untuk berhenti memaki ayahku. Aku hanya mampu terduduk sambil menangis lebih kencang lagi. Setelah tangisku mereda saya berlari menuju rumah tante Mira. Sesampaiku di sana, saya pribadi berlutut di hadapan tante Mira.
“Boleh tante kasih tahu saya kalau tante gak beneran hamil? Aku yakin tante gak bakal mau dijadikan istri kedua, tante harus tahu ibuku bergotong-royong tidak rela untuk dimadu, tante juga harus tahu kalau saya dan adikku tidak akan pernah mau punya ibu tiri. Karena semua itu tante, tante gak boleh nikah sama ayahku. Tante cantik, kaya, muda, belum keriput menyerupai ibuku jadi saya yakin tante pasti mampu dapat yang lebih baik dari….” Tiba-tiba semuanya terasa gelap.

Saat saya membuka mata yang pertama kulihat yaitu ibuku, melihat dinding di sekelilingku berwarna putih saya sadar sekarang saya sedang berada di rumah sakit.

“Kamu udah bangun sayang? Tadi kau pingsan, tante Mira yang bawa kau ke sini, kau harus terima kasih ya sama tante Mira.”

Tak berapa lama ayahku datang membawa sekotak makanan.

“Sekarang yang jagain kau ayah ya, bunda mau sholat dulu.” Aku hanya mengangguk lemah.
“Ayah” saya memanggil lirih ayahku.
“Iya sayang? Kamu butuh apa? Nanti ayah beliin.”
“Aku izinin ayah nikah sama tante Mira, ayahkan yang ngajarin saya buat selalu bersikap tanggung jawab.” Ayah memelukku dan menangis tersedu-sedu.
“Maafkan ayah sayang, ayah salah, ayah tidak memberi pola yang baik kepada kamu. Kamu tumbuh menjadi orang yang bijak sayang.” Ayah tersenyum lembut kepadaku.

Aku mengambil handphoneku dan mencari kontak tante Mira, saya mengiriminya sebuah pesan.

“Makasih udh bawa saya ke rumah sakit tante, sekaligus maaf buat kata2 bernafsu yg udh keluar dari verbal tak sopanku ini. Aku sdh memikirkannya, ayah mmg hrus bertanggung jwab atas apa yg telah ia perbuat. Aku izinin ayah buat nikah sma tante dengan syarat, saya mhon skali kpda tante buat gk tinggal bareng ibu, tante boleh ajak ayah ke rumah tante. Tante juga harus ngrti prsaan ibu tante. Aku harap tante snang dgn kputusanku ini.”

Beberapa hari setelah saya keluar dari rumah sakit, program ijab kabul ayah dan tante Mirapun digelar. Aku melihat bunda dapat  tersenyum nrimo kepada para tamu undangan, akupun berusaha melaksanakan hal yang sama. Acara ijab Kabul sebentar lagi akan dimulai, sebentar lagi saya akan memiliki ibu tiri. Ayah terlihat gagah dengan jas warna hitam milknya, tante Mira juga terlihat anggun dengan balutan kebaya putihnya.

“Saya minta ijab kabul ini dibatalkan. Mas Gunawan maafkan saya, saya berbohong perihal kehamilan saya, saya sama sekali tidak hamil. Mbak maafkan saya atas semua teror yang saya lakukan kepada mbak. Rina maafkan tante alasannya berusaha merebut ayah kau dan berusaha menghancurkan keluaga kalian. Kamu membuat tante sadar, kekuatan kasih sayang keluarga kalian begitu besar lengan berkuasa sehingga mengalahkan kelicikan tante. Makasih buat pelajarannya sayang.” Tante Mira tersenyum kepadaku dengan sangat tulus. Lagi-lagi saya berterima kasih kepada-Mu, ya Allah.

Profil Penulis:
Nama: Kurnia Ramadhani
Sekolah: SMA Negeri 2 Palu
Facebook: Kurnia Ramadhani
Email: kramadhani351@gmail.com

Tunggu Karya Juliani

TUNGGU
Karya Juliani

“Tunggu ayah nak!!”

Ucapan ayahnya masih terngiang ditelinga Diana.2 tahun silam,dimana ayahnya pergi untuk mencari ibunya yang hilang ketika pulang dari kerja.Itulah yang menjadi alasannya kenapa ia duduk di beranda malam ini.

“Sudah dua tahun ayah,Diana terus menunggu ayah pulang bersama ibu.”Gumamnya dalam hati.
“Ana,ini sudah sangat larut,masuklah.Ayahmu akan mengetuk pintu kalau ia datang nanti.”Tiba-tiba Aunti ada balik pintu,adik ayahnya yang selama ini manjaga Diana selama ayahnya hilang.
“Aku belum mengantuk Aunti.Aunti duluan saja,aku akan menyusul nanti.”Diana tak menghiraukan ucapan Auntinya.
“sudah 2 tahun Ana,berhentilah berharap.Polisi sudah memberi tahu,ayahmu hilang tanpa jejak.Sulit untuk menemukannya dengan keadaan menyerupai itu.”Aunti menghampiri Diana dan duduk disampingnya.
“Aunti mengulang perkataan yang sama setiap malam.Tapi saya pun akan memperlihatkan tanggapan yang sama,aku tak kan lelah.Ayah sudah berjanji padaku,dia akan datang bersama ibu.”
“Tapi kau sudah melihat hasilnya kan?,dua tahun menunggu tanpa kepastian.Aunti mohon berhentilah membuang waktumu.Umurmu masih muda dan  kau mempunyai masa depan yang harus diraih.Apa kau tidak ingin mengejar cita-citamu jadi chef  terkenal.”Aunti tetap memberi nasihat.

Diana membisu sejenak.Merenungkan perkataan Auntinya.Aunti berdiri dan menghela nafas panjang.

“Pikirkan baik-baik perkataanku  ini Ana. ayahmu melaksanakan hal yang sama dengan mu dulu.  Menanti ibumu yang hilang tanpa jejak,dan kau mampu lihat hasilnya sekarang.Ia memang mampu menemukan ibumu.Tapi apa yang dapat ia lakukan setelah bertemu?,tidak ada sama sekali.Karena karam dalam kesibukan mencari dan menunggu ibumu,ia hingga lupa sekolah dan karenanya jadi bodoh.Dan kau lihat,apa beliau mendapat pekerjaan,?tidaka kan.Dia hanyaterobsesi dengan cintanya yang ndeso itu,tanpa peduli pada kerugian yang diakibatkan oleh cintanya.Sampai-sampai setelah menikah ibumulah yang harus bekerja banting tulang setiap hari.Apakah menurutmu itu baik.?”

Diana masih diam.

“Jika kau menganggap saya menjelek-jelekkan ayahmu.Kau salah.Memang itulah yang terjadi.Apa kau tidak pernah memikirkan keadaaan  ibumu yang setiap malam pulang dengan rasa lelah,sedang ayahmu asyik menonton televisi dirumah.Bukankah itu tanggung jawab yang terbalik?.”

Diana mulai terisak mendengar cemoohan Auntin ihwal ayahnya.

“Camkan baik-baik perkataan ku .Kau sudah  cukup remaja untuk  mengerti kata-kata ku ini.Ibumu bersama-sama tidak menghilang melainkan pergi keluar negri untuk berguru alasannya ialah dusuruh orang tuanya.Ia sengaja tak memberi tahu ayahmu alasannya ialah orang tuanya juga melarangnya.Karna orang tuanya tahu ayahmu itu pemalas,bodoh dan tak dapat diandalkan.Dan setelah selesai belajar,ibumu kembali pulang dan ayahmu dapat segera menemukannya.Dugaan orang renta ibumu itu sangat benar.Ayahmu ndeso dan pengangguran jadi tak akan mungkin menikah dengan ibumu.Ayahmu tau akan hal itu.Karena cintanya yang sudah teramat sangat menggebu jadi beliau membuat rencana kotor.Ia memperkosa ibumu.Dengan cara itu ia dapat dengan mulus menikahi ibumu yang sama sekali tak menginginkan ayahmu untuk jadi pendampingnya.Tapi apa boleh buat,ibumu sudah ternoda,kamu dapat berpikir siapa lagi yang mau dengan wanita yang sudah ternoda.Dan menyerupai inilah akhirnya, kau lahir,ibumu jadi kepala rumah tangga dan ayahmu enak-enakan dirumah.”Aunti berlalu meninggalkan Diana yang menangis sendiri.

Diana berpikir keras apakah yang dikatakan Auntinya ialah benar .Ia mencoba mencari bukti dengan melihat beberapa foto lama ijab kabul orang tuanya.

“Memang benar yang dikatakan aunti.Dalam photo ini ayah terlihat sangat bahagia. Sedang ibu,seperti sedih dan kecewa.Dan lihat,mata ibu bengkak.Seperti habis menangis.”Gumamnya dalam hati.
“Ternyata ayahku sangat jahat.Aku salah dengan menganggap beliau yang paling menyayangiku alasannya ialah beliau selau ada dirumah.Aku salah menganggap ibu tak pernah menyayangiku alasannya ialah beliau selalu sibuk kerja dan tak punya waktu denganku.Oh Yang Mahakuasa ,ternyata ibu sangat menderita selama ini.”Diana menangis sendiri dalam kamarnya sambil memeluk photo-photo  lama itu.Mulai ketika itulah ia sadar dan ingin merubah sikapnya biar tidak mengalami hal yang sama dengan ayahnya.Ia mulai bersekolah kembali,tapi ia sudah sangat jauh tertinggal.Sehingga ia harus mulai lagi dari awal yaitu kelas 1 SMU.Tapi ia bertekad tidak ada kata terlambat untuk berubah.Teman-teman sekelasnya dulu yang kini sudah kelas 3 banyak yang memperlihatkan support dan dukungan.Sehingga ia sangat mudah berdiri dan bersemangat.Ia beruntung memiliki sobat yang menyerupai itu.

***

“Aunti,sudah tujuh tahun berlalu.Tapi bintangnya tetap tidak bertambah.”Ucap Diana sambil terus menatap bintang  dari balkon rumahnya bersama Auntin.
“Benar,padahal kau sudah sangat berjuang tujuh tahun terakhir ini.Tapi yang kau dapatkan hanya ketenaran bukan ketenangan hati.”Ucap Aunti merangkul Diana sambil terus menatap langit.
“Tapi bukankah itu sudah lebih dari cukup, Aunti.Rumah mewah ini saya beli untuk Aunti dan saya merasa puas dengan itu.”Diana menatap Auntinya dengan perasaan yang sangat dalam.
“Ya saya tahu itu.”Mata Auntinya masih tidak mampu lepas  dari bintang di langit.
“Oh ya,aku ingin memberi tahu.Kalau akan akan ke India besok.”Diana mengalihkan pembicaraan.
“Tapi kau gres saja kembali,kenapa harus pergi lagi.”Aunti menyerupai tidak terima.
“Tenanglah Aunti,aku akan pergi hanya untuk 2 hari saja.Mereka mendesakku untuk datang merasakan kuliner mereka.”
“Tunda saja dahulu,apa kau sudah lupa bahwa lusa ialah hari ulang tahunku?.”
“Tentu saja saya ingat.Tidak mungkin saya lupa semua hal yang mengenai Aunti.”Diana mencoba menenangkan Aunti.
”Lalu bagaimana mampu kau pergi  saat saya sedang berulang tahun.”Aunti mulai murung.
“Begini saja Aunti,aku kan pergi hanya untuk 2 hari saja,sedang ulang tahun Aunti dua hari lagi.Bagaimana kalau saya datang ketika malamnya saja.Aku akad akan datang.”
“Benar kau akan datang.?”Aunti menyerupai masih tidak percaya.
“Iya  benar.Dan ngomong-ngomong Aunti mau kubawakan hadiah apa dari India?”
“Mmm...,aku mau photo yang kau ambil pertama kali diantara keramaian orang.”
“Aneh sekali.”Diana mengerutkan alisnya.
“Kalau begitu saya harus membawa kamera yang super terang  dong biar semua kelihatan.”Tambahnya lagi.
“Itu pilihan yang bagus.”Balas Aunti.

Akhirnya mereka kembali menatap bintang bersama-sama hingga larut malam.

***

Tunggu Karya Juliani

“Aku pergi dulu ya Aunti.”Ucap Diana seraya memeluk auntinya.
“Baiklah, hati-hati dijalan.”Pesan Auntinya
“Dema tolong jaga Aunti selama saya pergi.”Pesan Diana pada dema,sekretaris pribadinya sebelum karenanya masuk kemobil dan melaju  kearah bandara Soehatta.

1 jam kemudian....

“Aku sudah berada di India.Sekarang saya harus selfie di daerah keramaian untuk kutunjukkan pada Aunti nanti.”Gumamnya dalam hati.

Lama ia mencari,akhirnya ketemu juga.Tidak jauh dari hotelnya menginap terdapat pasar yang sangat ramai.

“Ini cocok untuk dijadikan daerah selfie.”Ia segera mengeluarkan handphone dan tongsis miliknya.Ia mengambil aneka macam gambar.Ia segera mencetaknya.Sebelum dicetak ia sempat melihat-lihat photo-photonya mungkin ada beberapa yang harus ia hapus dan tak usah dicetak.Namun  ada kejanggalan yang ia temui dalam satu  photo.Setelah ia perjelas ia menyerupai mengenali salah seorang dari sekian banyak orang yang ia potret.Namun ia  agak ragu-ragu.

***

3 ahad sudah lewat.namun sepertinya Diana tak menepati janjinya dengan baik.Aunti bahkan kecewa dibuatnya.Terlebih lagi alasannya ialah Diana tidak memperlihatkan kabar.

“Dema tolong hubungi Diana,ada dimana beliau sekarang.Akan kumarahi beliau kalau beliau pulang nanti.Dia sudah membuatku kecewa dan khawatir.Bilang padanya biar cepat pulang,aku rindu padanya.”Aunti tak henti-hentinya bicara.
“Baiklah,akan kuhubungi dia.”Sebagai sekretaris Dema hanya patuh saja.Ia segera mengambil gagang telepon.Namun belum sempat ia melakukannya telepon sudah berdering duluan.
“Halo,dengan siapa ini.”Dema memulai pembicaraan.
“Dema ini saya Diana,aku akan segera pulang.Pastikan aunti ada dirumah.Ada sesuatu yang akan kutunjukkan padanya.”Diana menyerupai tengah menangis dikejauhan sana.
“Memangnya ada apa Diana?,apa ada masalah?.”Dema mulai khawatir.
“Tidak ada.Pokoknya pastikan saja Aunti ada dirumah.Aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang.”Desak Diana
“Ok.Baiklah.”Jawab Dema.Ia kembali meletakkan teleponnya.
“Apa yang Diana katakan?”Tanya Aunti.
“Dia hanya bilang beliau akan segera  datang  dan beliau ingin saya memastikan kalau Auntin ada dirumah.Katanya ada sesuatu yang ingin beliau tunjukkan pada Auntin.”

Tak beberapa lama kemudian diana datang dan  dengan dua orang absurd yang mengikutinya dari belakang. 

“selamat datang Diana.Aku akan mencubitmu karna kau datang terlambat dan mengingkari janjimu.”Auntin menyambut diana dengan pelukan hangat dan senyum yang mengembang sedang Diana tidak membalas pelukan itu dengan hangat juga.
“Kau kenapa sayang?. Dan siapa dua orang absurd ini.Kenapa kau membawa mereka.”Ucap Auntin melepaskan pelukannya.
“Mereka bukan orang absurd auntin.Mereka ialah orang yang selama ini saya rindukan.”Ucap Diana
“Maksudmu siapa,aku tidak mengerti.”Auntin terlihat bingung.

Bukannya memperlihatkan tanggapan Diana malah menangis.

“Tolong jangan menangis didepanku,katakan saja siapa mereka?”Auntin tidak sabar.Dengan terisak-isak Diana menjawab.
“Mereeka ada hiks...hiks...adalah ayah dan ibuku .”Ucap Diana pelan.
“Apa!!”auntin menutup mulutnya saking terkejut.
“Bukankah mereka sudah menghilang tanpa jejak sedikitpun.”Tambahnya lagi
“Aku pun menerka seperta itu.Tapi saya benar-benar menemukan mereka di India.”
“Bagaimana mampu mereka mampu hingga kesana.”Auntin masih tidak percaya.
“Aku pun tidak percaya ini,tapi inilah yang terjadi.Kau tahu Auntin kado yang kau pinta dariku dari India.”

Auntin mengangguk.

“Aku berhasil mendapat daerah keramaian untuk saya potret bersama diriku.Banyak foto yang kuambil.Dan ada salah satu foto yang janggal dari foto lainnya.Dan setelah kuteliti, saya melihat ayah ada diantara keramaian orang.Memang sangat sulit mengenalinya sekarang alasannya ialah ia memelihara kumis dan jambangnya.Tapi saya tahu kalau itu ayah.Aku kembali kepasar itu dan menanyakan kepada setiap orang apakah mereka mngenali ayah.Semua orang menjawab tidak kecuali seorang wanita yang tak lain ialah ibu.Aku tidak hafal dengan wajah ibu jadi saya tidak mengenalinya ketika itu.Tapi untunglah ia pribadi memberitahuku siapa dirinya dan akupun pribadi memeluknya.Dia membawaku kerumahnya.Disana saya dapat melihat,kondisi mereka sangat memprihatinkan.Rumah mereka tidak layak dikatakan  sebagai rumah melainkan gubuk reok.Aku dapat melihat ayah sedang tidur ditempat tidur yang terbuat dari bambu dan tidak beralaskan apa-apa.Kau tau Auntin,dia sangat lemah,tua,dan sakit.Aku tidak hingga hati meninggalkan mereka disana dalam kesengsaraan lagi.Jadi saya membawa mereka kesini untuk tinggal dengan kita.”Diana menjelaskan.
“Walau begitu kenapa kau harus membawa mereka kesini.Kau kan mampu memberi mereka uang yang banyak tanpa harus tinggal dengan mereka.”Auntin  menyanggah penjelasan Diana.
“Tapi mereka kan orang tuaku.Bukankah ini yang sepatutnya saya lakukan sebagai anak?”Diana memberi alasan.
“Apa saya sudah lupa dengan yang saya katakan dulu.Ayahmu ialah penyebab  semua penderitaanmu dan ibumu.”Auntin mulai marah.
“Tapi mereka sangat menderita Auntin.Aku tidak tega melihat ibu tersiksa lagi.Aku mampu saja hanya membawa ibu dan meninggalkan ayah.Tapi ayah akan sendiri dan tidak  akan ada yang merawatnya.Dan menurutku kesengsaraan yang sudah beliau timbulkan  sudah terbayar dengan penderitaannya ketika ini.”diana beralasan.
“Apapun alasannya saya tetap tidak suka kalau mereka ada disini.”Auntin marah.
“Kenapa auntin begitu marah kalau orang tuaku ada disini.Aku rasa rumah ini cukup besar untuk kita tinggali bersama.Lagipula ayah itu kan kakak Auntin juga.”Diana mencoba meyela semua  perkataan Auntin.
“Karena beliau takut nak.”Ibu Diana yang sedari tadi kini angkat bicara.
“Tapi takut apa bu,apa Auntin takut kasih sayangku akan terbagi.Itu tidak mungkin,kasih sayangku kepada Auntin sangat besar dan itu sudah dari dulu dan tidak akan pernah berubah.”
“Bukan itu yang beliau takutkan,Diana.”Kilah ibunya.
“Lalu apa?”Diana tampak bingung.
“Rupanya kau belum tahu dongeng yang sebenarnya,Diana.”Ucap ibunya.
“Cerita apa?aku benar-benar tidak mengerti.”Diana semakin resah dengan teka-teki ibunya.
“Kau tahu diana,separuh dari dongeng Auntinmu ialah benar.Ibu memang telah dinodai oleh ayahmu dan kami pribadi menikah.Kau pasti tahu kelanjutannya kan? ya benar saya hamil.Tapi kau tidak tahu anak yang kukandung itu meninggal sebelum saya melahirkannya.”Ibunya menjelaskan.
“Apa.”Diana sungguh terkejut.Yang diceritakan ibunya begitu berbeda dengan yang diceritakan oelh Auntin.
“Jika anak pertama ibu meninggal,jadi saya ialah anak kedua ibu?”Tanyanya .
“Ya benar.Kau ialah anak kedua ibu tapi bukan anak kedua ayahmu.”Jawab ibunya.
“Apa?aku semakin tidak mengerti.Tolong ceritakan secara detail ibu.”Pinta diana.
“Sudahlah Diana.Dia pasti mengarang dongeng bohong.Sekarang cepat beri mereka uang dan usir dari sini.”Auntin tiba-tiba memutus keingin tahuan Diana.
“Tidak auntin,hari ini saya harus tahu semuanya.Agar saya tak akan salah faham lagi.”Diana melerai Auntinnya.
“Berhentilah menutup-nutupi fakta Fera.sekarang anakku sudah remaja untuk tahu semua ini.Biar beliau tahu siapa kau sebenarnya.”Ucap ibunya Diana kepada Auntin.
“Dengarkan baik-baik nak,semua yang akan  aku ceritakan ini ialah benar adanya.Setelah ibu keguguran terjadi komplikasi dengan ayahmu yang menimbulkan ia tidak mampu membuahi sel telur.Bisa dibilang ia mandul.Dan otomatis ibu tidak akan mampu hamil lagi.Tapi dimalam itu kejadian yang sama terulang dengan yang dilakukan ayahmu dulu.Ada yang memperkosa ibu hingga ibu hamil dan melahirkanmu.Dan kau siapa pria bajingan itu.Dia ialah suaminya  Fera.Fera  lebih dulu menikah daripada ayahmu.Namun sayang,  Fera  mandul.sedang suaminya tidak.Dan dialah otak dari ini semua.Dia yang menyuruh Eko, suaminya untuk memperkosa ibu hingga hamil.Ibu ingat betul wajah Eko.Walaupun dalam kegelapan saya dapat mengenalinya alasannya ialah beliau memiliki derap kaki yang menyeret dan benjolan di punggung kakinya.Dan saya segera melapor kepolisi dan beliau ditangkap tapi tidak dengan Fera,Eko begitu menyayanginya sehingga tidak hingga hati membawa nama Fera kepengadilan.Setelah kau lahir dan tumbuh dewasa,Auntin bermaksud untuk mengambilmu dari kami.Dan rencananya malam itu lagi-lagi mulus.Ia tahu kalau ibu hilang pasti ayahmu akan mencari ibu hingga ketemu.Dan karenanya ibu dan ayahmu dibuang ke India tanpa perbekalan apapun.Selama 9 tahun kami hidup terasing di India,tidak mengenal siapapun.Untung ibu dulu pernah sekolah diluar negri jadi ibu mampu sedikit beradaptasi,tapi ayahmu sama sekali tidak bisa.Jika kau tahu dari awal  cerita ini Diana,kau pasti sudah meninggalkan  Auntimu.”Cerita ibunya.

Diana masih tidak percaya dengan ini semua.Ia tidak habis pikir dengan Auntinnya yang tega berbuat menyerupai itu pada oarang tuanya.
“Aku bahkan tidak per  hiks...hiks pernah memimpikan ini.”Ucap Diana disela-sela tangisannya.
“Ibu,apakah ayah tau semua ini?”Tanya Diana.

Ibunya  mengangguk.Diana bergegas memeluk ayahnya yang sudah renta itu.Ayahnya yang duduk dikursi roda itu pun hanya mampu membalas pelukan  anaknya itu dengan tangisan.

“Aku salah mengenai ayah selama ini.”Ucap Diana melepaskan pelukannya.
“Tidak nak,ayahlah yang salah.Karena ayah kau dan ibumu  jadi sengsara.”Ayahnya mengelus rambut Diana.
“Apakah kau akan tetap menyayangi ayah  sperti dulu meskipun sudah tahu kebenarannya.”Tanya ayahnya .

Diana hanya mengangguk.

“Bagaimana dengan Auntin diana.?”tanya Auntinnya.
“Kau sudah sangat berjasa kepadaku sehingga saya dapat meraih ini semua.Kau tidak akan saya seret kepenjara.Kau masih kuperbolehkan tinggal disini,tapi saya tidak menjamin kasih sayangku dan cintaku akan sama menyerupai dulu atau hilang sama sekali.Karna sayangmu kepadaku juga membuat orang yang saya sayangi menderita.”Ucap Diana

Akhirnya Diana dan kedua orang tuanya bersama dan bahagia selamanya meskipun ada Auntin bersama mereka. 

***THE END***    
            
Profil Penulis:
nama:juliani
fb:akhuuw juliant
alamat:jl.selamat gg.mesjid no.29 (samping mesjid arafah) bromo ujung
sekolah:smk perpajakan indonesia. 
kelas:II

Jangan Ganggu Keluargaku, Tante Karya Kurnia Ramadhani

JANGAN GANGGU KELUARGAKU, TANTE
Karya Kurnia Ramadhani

Menurut kalian definisi keluarga itu apa? Bagiku keluarga yaitu komponen terpenting dalam kehidupan ini terkhusus ibu dan ayah. Tanpa mereka mungkin kita takkan dapat melihat betapa mengagumkan dunia ciptaan-Nya ini.

Keluargaku itu komplit. Aku memiliki ibu yang perhatian, ayah yang penyayang, dan adik yang amat lucu. Mungkin kehidupanku akan hampa tanpa mereka bertiga di sisiku.

Ibuku yaitu sosok bidadari yang dikirimkan Tuhan spesial untukku. Beliaulah yang senantiasa dengan tabah memberiku pesan yang tersirat serta wejangan yang tentunya sangat bermanfaat bagi kehidupanku. Yang terpenting ia amatlah sabar.

Ayahku yaitu lelaki perkasa dengan seribu aturannya. Ayahku selalu punya aturan untuk setiap anggota keluarga di rumah kami yang wajib ditaati. Walaupun ayah orangnya super duper sibuk, namun ayah selalu menyempatkan untuk berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga kecilnya. “Pekerjaan memang penting, tapi keluarga tetap nomor satu” itulah semboyan ayahku.

Putri kecil berumur 3 tahun keluarga kami, Tina, ia sangat lucu, menggemaskan, dan begitu pandai. Umur kami terpaut 13 tahun, meskipun rentan umur kami yang sangat jauh, bukan berarti saya yaitu anak yang manja alasannya lama menjadi anak tunggal. Dengan aturan-aturan ayahku saya tumbuh menjadi cendekia balig cukup akal disiplin, saya sangat gembira dengan sosok ayahku, ia yaitu idolaku.

“Happy anniversary ayah, ibu.” Jam 12 sempurna tengah malam saya memberi kejutan kepada kedua orang tuaku. Ibuku terbangun dan tersenyum melihatku, tapi ayah tak ada di kamar. Apa mungkin ayah belum pulang? Biasanya ayah selalu pulang ketika peringatan pernikahannya tiba, dan ayah tidak pernah lupa akan hal itu.
“Ayah belum pulang, mungkin banyak kerjaan di kantor. Makasih ya sayang,” seakan dapat membaca pikiranku, ibu mengeluarkan suaranya. Tapi menyerupai ada yang absurd dengan ibu malam ini, menyerupai ada yang sedang membebani pikirannya, ah sudahlah mungkin ibu hanya kelelahan saja. Ibu mengecup keningku dan menyuruhku untuk kembali ke kamarku.

Pagi harinya ternyata ayah telah menunggu di meja makan.

“Ayah, tadi malam aku….”
“Ayah udah tahu kok, makasih Rina sayang.” Ayah memotong pembicaraanku, dikarenakan telah mengerti yang kumaksud.
“Ibu, Tina mau makan kuenya.” Sepertinya adik manisku ini sudah tidak tabah ingin melahap kudapan manis tar yang ada di hadapannya.
“Tunggu dulu dek, kita harus foto dulu dan upload di instagram.”aku mengeluarkan handphone dan menyentuh ikon kamera. Lalu satu gambar yang memuat wajah bahagia kami berempat berhasil terpampang di instagram milikku. Aku tersenyum mengamati beberapa foto yang telah terabadikan di instagramku, kebanyakan memang foto-foto keluargaku, saya lebih senang memamerkan kegiatan bersama kelurga kecilku dibandingkan memasang foto berdua dengan laki-laki yang sering dilakukan teman-temanku yang lain. Namun, menyerupai ada hal yang absurd di meja makan pagi ini, jarang sekali ayah dan ibuku tidak mengeluarkan dagelan khas mereka ketika sarapan. Tapi pagi ini mereka hanya berdiam diri sambil menikmati makanan masing-masing.

Jilbab putihku berkibar kesana kemari ketika saya keluar dari mobil, sahabatku Fitri, Sinta, dan Rio telah menunggu di gerbang sekolah. Lebih tepatnya Rio bukan sahabatku, ia hanya sahabat laki-laki yang terus mengejarku dan saya senantiasa menolaknya alasannya aturan dari ayahku yang sangat melarang saya untuk berpacaran. Setiap saya menolaknya, saya akan beralibi ia bukanlah tipeku dan laki-laki yang menjadi pacar idamanku itu menyerupai ayahku. Tentu saja Rio sangat jauh dari kriteria itu.

“Tambah cantik aja Rina.” Rio mulai lagi gombalan kadaluarsanya. Aku hanya memutar bola mataku dan mengajak dua sahabatku segera menuju kelas.
“Keluarga kau sweet banget Rin, andaikan saya punya keluarga kayak kamu, iyakan Sin?” kata Fitri dan disambut dengan anggukan kepala dari Sinta. Dua orang sahabatku ini memang kurang beruntung, keluarga mereka sudah tidak lengkap lagi. Fitri yaitu anak yang lahir dari korelasi pra nikah orang tuanya dan sekarang dirinya hanya dirawat oleh neneknya. Sedangkan Sinta, bapaknya meninggalkan dirinya dan ibunya demi perempuan lain. Seringkali mereka mengatakan bahwa mereka iri denganku yang memiliki keluarga lengkap dan begitu kompak.
“Assalamualaikum.” Aku menggerakkan gagang pintuku ke bawah dan mendorong pintunya. Tiba-tiba “pranggggg” terdengar bunyi benda pecah dari arah dapurku, saya terkejut dan segera berlari ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. Kudapati kedua orang tuaku berselisih, gres kali ini saya melihat mereka bertengkar, entah apa yang telah terjadi. Aku bersembunyi di balik tembok dan mendengarkan percakapan mereka.”
“Saya kurang apa Yah sama kamu?” kudengar ada isakan tangis ditengah-tengah kata yang diucapkan ibuku.
“Maafkan ayah bu, ayah khilaf. Ayah gak pernah bermaksud mengkhianati ibu dan anak-anak. Sekarang saya tidak pernah lagi bekerjasama dengan perempuan itu.”
“Bisa-bisanya ayah bermain api di belakang ibu. Sekarang ayah lebih baik angkat kaki dari rumah ini, ceraikan saya dan pergilah bersama perempuan itu.”

Aku menangis dalam membisu ketika mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh kedua orang tuaku. Apakah benar ayahku memiliki perempuan lain di luar sana? Apakah keluargaku juga akan retak menyerupai keluarga kedua sahabatku? Aku teringat akan adikku, dimana dia. Aku mencarinya ke kamar orang tuaku dan kudapati ia sedang menangis tersedu-sedu di sudut kamar, kuhampiri ia dan berusaha menenangkannya.

Jangan Ganggu Keluargaku, Tante Karya Kurnia Ramadhani

Sehabis mengerjakan peran sekolah, saya berjalan menuju kamar orang tuaku dan kulihat ibuku sedang menangis.

“Bu, ibu sayangkan sama saya dan Tina? Kami berdua masih butuh ayah bu, ibu jangan pisah sama ayah. Rina tahu ibu pasti sakit banget tapi bukannya semua orang mampu dapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya bu? Ayahkan juga udah….” Ibu menutup mulutku dan menganggukkan kepala lalu memelukku.
“Kamu benar sayang, kau benar. Maafin ibu yang terlalu egois hingga tidak memikirkan perasaan kalian berdua. Ibu akan suruh ayahmu untuk segera pulang.”

Kehidupan keluargaku kembali berjalan dengan normal, ibuku memang sangat pemaaf, ia bahkan tak pernah lagi mengungkit kesalahan besar ayahku itu. Ayahku juga telah berjanji tak akan mengulangi kesalahan itu lagi. 

Akhir-akhir ini banyak teror menimpa keluargaku, mulai dari pengiriman surat kaleng, beling rumahku yang sering dilempar batu, ibuku yang hampir celaka oleh seseorang, adikku yang tak tahu apa-apapun juga terkena incaran si peneror. Aku tak mengerti maksud semua teror ini, tapi setelah kubaca satu demi satu surat kaleng yang dikirimkan, saya mengira itu semua ulah perempuan yang dulu menjadi selingkuhan ayah. Aku dan keluargaku berusaha untuk tabah mendapatkan semua teroran itu, hingga suatu ketika ada seseorang yang mengomentari postingan instagramku yang kuberi judul “sweet family” orang itu membeberkan duduk perkara keluargaku beberapa bulan yang lalu. Teman-temanku di sekolah sekarang menganggap semua postingan di instagram dan dongeng perihal keharmonisan keluargaku hanyalah omong kosong belaka. Aku sangat malu menampakkan diri di sekolah, saya berusaha mencari tahu siapa yang telah mengirim komentar itu, tapi saya tidak menemukan isu perihal orang itu.

Teleponku berdering membuyarkan lamunanku, nomornya tidak terdaftar di kontak handphoneku. Aku menggeser ikon telepon berwarna hijau.

“Halo assalamualaikum,” 
“Walaikum salam cantik, ini calon ibu tirimu nak. Bagaimana komentar mama di instagrammu, apakah kau suka?”
“Apa maksud anda? Apa anda juga yang beberapa bulan terakhir ini meneror keluarga saya?”
“Kamu ternyata anak yang sangat pintar ya sayang, tidak sia-sia ayahmu merawat kamu”

Tut….tut….tut…. Telepon terputus, beberapa ketika kemudian saya mendapat sms dari nomor yang sama.

“Jl. Salak no. 9 alamat rumah mma syg, kapan2 mampir ya. Jgn lupa bwa ayah kmu.”

Sepulang sekolah saya bertekad untuk mengunjungi rumah orang itu. Sampailah saya di sebuah rumah megah nan indah, kupastikan alamat itu memang benar. Kuberanikan diri memencet belnya dan mengucapkan salam, seorang perempuan cantik yang mungkin lebih muda usianya dari ibu keluar.

“Ternyata kau lebih cantik aslinya daripada di dunia maya. Nama mama yaitu Miranda, kau boleh panggil mama Mira.” Kata orang itu yang ternyata berjulukan Mira, sambil menarik tanganku untuk masuk ke rumahnya.
“Apakah anda pantas untuk saya panggil dengan sebutan mama? Atas dasar apa? Saya tidak punya dan tidak akan pernah punya mama menyerupai anda.”
“Jangan menyerupai itu sayang, sebentar lagi mama akan menjadi episode dari keluarga bahagiamu itu.”
“Anda perlu ingat kata-kata saya, saya tidak pernah sudi bila ayah saya menikah lagi, apalagi dengan perempuan perusak rumah tangga orang menyerupai anda.” Aku berlari keluar dari rumah itu, rasanya sesak sekali berada di sana. Aku berlari sekuat tenagaku tak kupedulikan jilbabku yang awut-awutan alasannya tertiup angin.
“Rina, kau kenapa jalan kaki?” Tak sengaja saya bertemu Rio di jalan, saya hanya membisu tak menanggapi pertanyaannya.
“Sini saya antar pulang. Tenang aja saya gak bakal macam-macam kok.” Rio tersenyum padaku dan saya segera naik ke motornya alasannya memang kakiku sudah pegal.

Aku berterima kasih kepada Rio lalu segera masuk ke rumah dan pribadi menuju kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya mengingat kata-kata yang diucapkan tante Mira kepadaku. Ibu masuk dan duduk di samping ranjangku, saya yang menyadari kehadiran ibuku segera bangun dari tidurku dan memperhatikan wajah ibuku yang sembab alasannya air mata.

“Ayah harus nikahin tante Mira Rin, ibu udah izinin.” Kata-kata yang membuatku bagai tersambar petir.
“Tante Mira hamil sayang. Ayah kau harus tanggung jawab. Tolong beri ayahmu izin untuk menikah lagi nak!”
“Ayah dimna bu?” 
“Di kamar nak.”

Aku menghampiri ayahku di kamarnya dengan linangan air mata yang mengalir deras di pipiku.

“Ayah, Rina mau tanya. Apa Rina selama ini bandel? Apa Rina pernah langgar peraturan yang ayah bikin? Rina pakai jilbab walaupun Rina belum siap alasannya ikut aturan ayah, Rina gak pernah rasain gimana pacaran kayak teman-teman Rina alasannya aturan ayah, Rina gak pernah ikut hang out sama teman-teman Rina alasannya aturan ayah. Apa ada yang pernah Rina langgar yah? Terus kenapa ayah nyakitin perasaan Rina kayak gini, kenapa yah? Apa alasannya didalam aturan ayah tidak ada aturan untuk dilarang selingkuh, makanya ayah mampu dengan leluasa lakuin perbuatan menjijikan itu?”
“Rina stop.” Bunda menyuruhku untuk berhenti memaki ayahku. Aku hanya mampu terduduk sambil menangis lebih kencang lagi. Setelah tangisku mereda saya berlari menuju rumah tante Mira. Sesampaiku di sana, saya pribadi berlutut di hadapan tante Mira.
“Boleh tante kasih tahu saya kalau tante gak beneran hamil? Aku yakin tante gak bakal mau dijadikan istri kedua, tante harus tahu ibuku bergotong-royong tidak rela untuk dimadu, tante juga harus tahu kalau saya dan adikku tidak akan pernah mau punya ibu tiri. Karena semua itu tante, tante gak boleh nikah sama ayahku. Tante cantik, kaya, muda, belum keriput menyerupai ibuku jadi saya yakin tante pasti mampu dapat yang lebih baik dari….” Tiba-tiba semuanya terasa gelap.

Saat saya membuka mata yang pertama kulihat yaitu ibuku, melihat dinding di sekelilingku berwarna putih saya sadar sekarang saya sedang berada di rumah sakit.

“Kamu udah bangun sayang? Tadi kau pingsan, tante Mira yang bawa kau ke sini, kau harus terima kasih ya sama tante Mira.”

Tak berapa lama ayahku datang membawa sekotak makanan.

“Sekarang yang jagain kau ayah ya, bunda mau sholat dulu.” Aku hanya mengangguk lemah.
“Ayah” saya memanggil lirih ayahku.
“Iya sayang? Kamu butuh apa? Nanti ayah beliin.”
“Aku izinin ayah nikah sama tante Mira, ayahkan yang ngajarin saya buat selalu bersikap tanggung jawab.” Ayah memelukku dan menangis tersedu-sedu.
“Maafkan ayah sayang, ayah salah, ayah tidak memberi pola yang baik kepada kamu. Kamu tumbuh menjadi orang yang bijak sayang.” Ayah tersenyum lembut kepadaku.

Aku mengambil handphoneku dan mencari kontak tante Mira, saya mengiriminya sebuah pesan.

“Makasih udh bawa saya ke rumah sakit tante, sekaligus maaf buat kata2 bernafsu yg udh keluar dari verbal tak sopanku ini. Aku sdh memikirkannya, ayah mmg hrus bertanggung jwab atas apa yg telah ia perbuat. Aku izinin ayah buat nikah sma tante dengan syarat, saya mhon skali kpda tante buat gk tinggal bareng ibu, tante boleh ajak ayah ke rumah tante. Tante juga harus ngrti prsaan ibu tante. Aku harap tante snang dgn kputusanku ini.”

Beberapa hari setelah saya keluar dari rumah sakit, program ijab kabul ayah dan tante Mirapun digelar. Aku melihat bunda dapat  tersenyum nrimo kepada para tamu undangan, akupun berusaha melaksanakan hal yang sama. Acara ijab Kabul sebentar lagi akan dimulai, sebentar lagi saya akan memiliki ibu tiri. Ayah terlihat gagah dengan jas warna hitam milknya, tante Mira juga terlihat anggun dengan balutan kebaya putihnya.

“Saya minta ijab kabul ini dibatalkan. Mas Gunawan maafkan saya, saya berbohong perihal kehamilan saya, saya sama sekali tidak hamil. Mbak maafkan saya atas semua teror yang saya lakukan kepada mbak. Rina maafkan tante alasannya berusaha merebut ayah kau dan berusaha menghancurkan keluaga kalian. Kamu membuat tante sadar, kekuatan kasih sayang keluarga kalian begitu besar lengan berkuasa sehingga mengalahkan kelicikan tante. Makasih buat pelajarannya sayang.” Tante Mira tersenyum kepadaku dengan sangat tulus. Lagi-lagi saya berterima kasih kepada-Mu, ya Allah.

Profil Penulis:
Nama: Kurnia Ramadhani
Sekolah: SMA Negeri 2 Palu
Facebook: Kurnia Ramadhani
Email: kramadhani351@gmail.com

Tunggu Karya Juliani

TUNGGU
Karya Juliani

“Tunggu ayah nak!!”

Ucapan ayahnya masih terngiang ditelinga Diana.2 tahun silam,dimana ayahnya pergi untuk mencari ibunya yang hilang ketika pulang dari kerja.Itulah yang menjadi alasannya kenapa ia duduk di beranda malam ini.

“Sudah dua tahun ayah,Diana terus menunggu ayah pulang bersama ibu.”Gumamnya dalam hati.
“Ana,ini sudah sangat larut,masuklah.Ayahmu akan mengetuk pintu kalau ia datang nanti.”Tiba-tiba Aunti ada balik pintu,adik ayahnya yang selama ini manjaga Diana selama ayahnya hilang.
“Aku belum mengantuk Aunti.Aunti duluan saja,aku akan menyusul nanti.”Diana tak menghiraukan ucapan Auntinya.
“sudah 2 tahun Ana,berhentilah berharap.Polisi sudah memberi tahu,ayahmu hilang tanpa jejak.Sulit untuk menemukannya dengan keadaan menyerupai itu.”Aunti menghampiri Diana dan duduk disampingnya.
“Aunti mengulang perkataan yang sama setiap malam.Tapi saya pun akan memperlihatkan tanggapan yang sama,aku tak kan lelah.Ayah sudah berjanji padaku,dia akan datang bersama ibu.”
“Tapi kau sudah melihat hasilnya kan?,dua tahun menunggu tanpa kepastian.Aunti mohon berhentilah membuang waktumu.Umurmu masih muda dan  kau mempunyai masa depan yang harus diraih.Apa kau tidak ingin mengejar cita-citamu jadi chef  terkenal.”Aunti tetap memberi nasihat.

Diana membisu sejenak.Merenungkan perkataan Auntinya.Aunti berdiri dan menghela nafas panjang.

“Pikirkan baik-baik perkataanku  ini Ana. ayahmu melaksanakan hal yang sama dengan mu dulu.  Menanti ibumu yang hilang tanpa jejak,dan kau mampu lihat hasilnya sekarang.Ia memang mampu menemukan ibumu.Tapi apa yang dapat ia lakukan setelah bertemu?,tidak ada sama sekali.Karena karam dalam kesibukan mencari dan menunggu ibumu,ia hingga lupa sekolah dan karenanya jadi bodoh.Dan kau lihat,apa beliau mendapat pekerjaan,?tidaka kan.Dia hanyaterobsesi dengan cintanya yang ndeso itu,tanpa peduli pada kerugian yang diakibatkan oleh cintanya.Sampai-sampai setelah menikah ibumulah yang harus bekerja banting tulang setiap hari.Apakah menurutmu itu baik.?”

Diana masih diam.

“Jika kau menganggap saya menjelek-jelekkan ayahmu.Kau salah.Memang itulah yang terjadi.Apa kau tidak pernah memikirkan keadaaan  ibumu yang setiap malam pulang dengan rasa lelah,sedang ayahmu asyik menonton televisi dirumah.Bukankah itu tanggung jawab yang terbalik?.”

Diana mulai terisak mendengar cemoohan Auntin ihwal ayahnya.

“Camkan baik-baik perkataan ku .Kau sudah  cukup remaja untuk  mengerti kata-kata ku ini.Ibumu bersama-sama tidak menghilang melainkan pergi keluar negri untuk berguru alasannya ialah dusuruh orang tuanya.Ia sengaja tak memberi tahu ayahmu alasannya ialah orang tuanya juga melarangnya.Karna orang tuanya tahu ayahmu itu pemalas,bodoh dan tak dapat diandalkan.Dan setelah selesai belajar,ibumu kembali pulang dan ayahmu dapat segera menemukannya.Dugaan orang renta ibumu itu sangat benar.Ayahmu ndeso dan pengangguran jadi tak akan mungkin menikah dengan ibumu.Ayahmu tau akan hal itu.Karena cintanya yang sudah teramat sangat menggebu jadi beliau membuat rencana kotor.Ia memperkosa ibumu.Dengan cara itu ia dapat dengan mulus menikahi ibumu yang sama sekali tak menginginkan ayahmu untuk jadi pendampingnya.Tapi apa boleh buat,ibumu sudah ternoda,kamu dapat berpikir siapa lagi yang mau dengan wanita yang sudah ternoda.Dan menyerupai inilah akhirnya, kau lahir,ibumu jadi kepala rumah tangga dan ayahmu enak-enakan dirumah.”Aunti berlalu meninggalkan Diana yang menangis sendiri.

Diana berpikir keras apakah yang dikatakan Auntinya ialah benar .Ia mencoba mencari bukti dengan melihat beberapa foto lama ijab kabul orang tuanya.

“Memang benar yang dikatakan aunti.Dalam photo ini ayah terlihat sangat bahagia. Sedang ibu,seperti sedih dan kecewa.Dan lihat,mata ibu bengkak.Seperti habis menangis.”Gumamnya dalam hati.
“Ternyata ayahku sangat jahat.Aku salah dengan menganggap beliau yang paling menyayangiku alasannya ialah beliau selau ada dirumah.Aku salah menganggap ibu tak pernah menyayangiku alasannya ialah beliau selalu sibuk kerja dan tak punya waktu denganku.Oh Yang Mahakuasa ,ternyata ibu sangat menderita selama ini.”Diana menangis sendiri dalam kamarnya sambil memeluk photo-photo  lama itu.Mulai ketika itulah ia sadar dan ingin merubah sikapnya biar tidak mengalami hal yang sama dengan ayahnya.Ia mulai bersekolah kembali,tapi ia sudah sangat jauh tertinggal.Sehingga ia harus mulai lagi dari awal yaitu kelas 1 SMU.Tapi ia bertekad tidak ada kata terlambat untuk berubah.Teman-teman sekelasnya dulu yang kini sudah kelas 3 banyak yang memperlihatkan support dan dukungan.Sehingga ia sangat mudah berdiri dan bersemangat.Ia beruntung memiliki sobat yang menyerupai itu.

***

“Aunti,sudah tujuh tahun berlalu.Tapi bintangnya tetap tidak bertambah.”Ucap Diana sambil terus menatap bintang  dari balkon rumahnya bersama Auntin.
“Benar,padahal kau sudah sangat berjuang tujuh tahun terakhir ini.Tapi yang kau dapatkan hanya ketenaran bukan ketenangan hati.”Ucap Aunti merangkul Diana sambil terus menatap langit.
“Tapi bukankah itu sudah lebih dari cukup, Aunti.Rumah mewah ini saya beli untuk Aunti dan saya merasa puas dengan itu.”Diana menatap Auntinya dengan perasaan yang sangat dalam.
“Ya saya tahu itu.”Mata Auntinya masih tidak mampu lepas  dari bintang di langit.
“Oh ya,aku ingin memberi tahu.Kalau akan akan ke India besok.”Diana mengalihkan pembicaraan.
“Tapi kau gres saja kembali,kenapa harus pergi lagi.”Aunti menyerupai tidak terima.
“Tenanglah Aunti,aku akan pergi hanya untuk 2 hari saja.Mereka mendesakku untuk datang merasakan kuliner mereka.”
“Tunda saja dahulu,apa kau sudah lupa bahwa lusa ialah hari ulang tahunku?.”
“Tentu saja saya ingat.Tidak mungkin saya lupa semua hal yang mengenai Aunti.”Diana mencoba menenangkan Aunti.
”Lalu bagaimana mampu kau pergi  saat saya sedang berulang tahun.”Aunti mulai murung.
“Begini saja Aunti,aku kan pergi hanya untuk 2 hari saja,sedang ulang tahun Aunti dua hari lagi.Bagaimana kalau saya datang ketika malamnya saja.Aku akad akan datang.”
“Benar kau akan datang.?”Aunti menyerupai masih tidak percaya.
“Iya  benar.Dan ngomong-ngomong Aunti mau kubawakan hadiah apa dari India?”
“Mmm...,aku mau photo yang kau ambil pertama kali diantara keramaian orang.”
“Aneh sekali.”Diana mengerutkan alisnya.
“Kalau begitu saya harus membawa kamera yang super terang  dong biar semua kelihatan.”Tambahnya lagi.
“Itu pilihan yang bagus.”Balas Aunti.

Akhirnya mereka kembali menatap bintang bersama-sama hingga larut malam.

***

Tunggu Karya Juliani

“Aku pergi dulu ya Aunti.”Ucap Diana seraya memeluk auntinya.
“Baiklah, hati-hati dijalan.”Pesan Auntinya
“Dema tolong jaga Aunti selama saya pergi.”Pesan Diana pada dema,sekretaris pribadinya sebelum karenanya masuk kemobil dan melaju  kearah bandara Soehatta.

1 jam kemudian....

“Aku sudah berada di India.Sekarang saya harus selfie di daerah keramaian untuk kutunjukkan pada Aunti nanti.”Gumamnya dalam hati.

Lama ia mencari,akhirnya ketemu juga.Tidak jauh dari hotelnya menginap terdapat pasar yang sangat ramai.

“Ini cocok untuk dijadikan daerah selfie.”Ia segera mengeluarkan handphone dan tongsis miliknya.Ia mengambil aneka macam gambar.Ia segera mencetaknya.Sebelum dicetak ia sempat melihat-lihat photo-photonya mungkin ada beberapa yang harus ia hapus dan tak usah dicetak.Namun  ada kejanggalan yang ia temui dalam satu  photo.Setelah ia perjelas ia menyerupai mengenali salah seorang dari sekian banyak orang yang ia potret.Namun ia  agak ragu-ragu.

***

3 ahad sudah lewat.namun sepertinya Diana tak menepati janjinya dengan baik.Aunti bahkan kecewa dibuatnya.Terlebih lagi alasannya ialah Diana tidak memperlihatkan kabar.

“Dema tolong hubungi Diana,ada dimana beliau sekarang.Akan kumarahi beliau kalau beliau pulang nanti.Dia sudah membuatku kecewa dan khawatir.Bilang padanya biar cepat pulang,aku rindu padanya.”Aunti tak henti-hentinya bicara.
“Baiklah,akan kuhubungi dia.”Sebagai sekretaris Dema hanya patuh saja.Ia segera mengambil gagang telepon.Namun belum sempat ia melakukannya telepon sudah berdering duluan.
“Halo,dengan siapa ini.”Dema memulai pembicaraan.
“Dema ini saya Diana,aku akan segera pulang.Pastikan aunti ada dirumah.Ada sesuatu yang akan kutunjukkan padanya.”Diana menyerupai tengah menangis dikejauhan sana.
“Memangnya ada apa Diana?,apa ada masalah?.”Dema mulai khawatir.
“Tidak ada.Pokoknya pastikan saja Aunti ada dirumah.Aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang.”Desak Diana
“Ok.Baiklah.”Jawab Dema.Ia kembali meletakkan teleponnya.
“Apa yang Diana katakan?”Tanya Aunti.
“Dia hanya bilang beliau akan segera  datang  dan beliau ingin saya memastikan kalau Auntin ada dirumah.Katanya ada sesuatu yang ingin beliau tunjukkan pada Auntin.”

Tak beberapa lama kemudian diana datang dan  dengan dua orang absurd yang mengikutinya dari belakang. 

“selamat datang Diana.Aku akan mencubitmu karna kau datang terlambat dan mengingkari janjimu.”Auntin menyambut diana dengan pelukan hangat dan senyum yang mengembang sedang Diana tidak membalas pelukan itu dengan hangat juga.
“Kau kenapa sayang?. Dan siapa dua orang absurd ini.Kenapa kau membawa mereka.”Ucap Auntin melepaskan pelukannya.
“Mereka bukan orang absurd auntin.Mereka ialah orang yang selama ini saya rindukan.”Ucap Diana
“Maksudmu siapa,aku tidak mengerti.”Auntin terlihat bingung.

Bukannya memperlihatkan tanggapan Diana malah menangis.

“Tolong jangan menangis didepanku,katakan saja siapa mereka?”Auntin tidak sabar.Dengan terisak-isak Diana menjawab.
“Mereeka ada hiks...hiks...adalah ayah dan ibuku .”Ucap Diana pelan.
“Apa!!”auntin menutup mulutnya saking terkejut.
“Bukankah mereka sudah menghilang tanpa jejak sedikitpun.”Tambahnya lagi
“Aku pun menerka seperta itu.Tapi saya benar-benar menemukan mereka di India.”
“Bagaimana mampu mereka mampu hingga kesana.”Auntin masih tidak percaya.
“Aku pun tidak percaya ini,tapi inilah yang terjadi.Kau tahu Auntin kado yang kau pinta dariku dari India.”

Auntin mengangguk.

“Aku berhasil mendapat daerah keramaian untuk saya potret bersama diriku.Banyak foto yang kuambil.Dan ada salah satu foto yang janggal dari foto lainnya.Dan setelah kuteliti, saya melihat ayah ada diantara keramaian orang.Memang sangat sulit mengenalinya sekarang alasannya ialah ia memelihara kumis dan jambangnya.Tapi saya tahu kalau itu ayah.Aku kembali kepasar itu dan menanyakan kepada setiap orang apakah mereka mngenali ayah.Semua orang menjawab tidak kecuali seorang wanita yang tak lain ialah ibu.Aku tidak hafal dengan wajah ibu jadi saya tidak mengenalinya ketika itu.Tapi untunglah ia pribadi memberitahuku siapa dirinya dan akupun pribadi memeluknya.Dia membawaku kerumahnya.Disana saya dapat melihat,kondisi mereka sangat memprihatinkan.Rumah mereka tidak layak dikatakan  sebagai rumah melainkan gubuk reok.Aku dapat melihat ayah sedang tidur ditempat tidur yang terbuat dari bambu dan tidak beralaskan apa-apa.Kau tau Auntin,dia sangat lemah,tua,dan sakit.Aku tidak hingga hati meninggalkan mereka disana dalam kesengsaraan lagi.Jadi saya membawa mereka kesini untuk tinggal dengan kita.”Diana menjelaskan.
“Walau begitu kenapa kau harus membawa mereka kesini.Kau kan mampu memberi mereka uang yang banyak tanpa harus tinggal dengan mereka.”Auntin  menyanggah penjelasan Diana.
“Tapi mereka kan orang tuaku.Bukankah ini yang sepatutnya saya lakukan sebagai anak?”Diana memberi alasan.
“Apa saya sudah lupa dengan yang saya katakan dulu.Ayahmu ialah penyebab  semua penderitaanmu dan ibumu.”Auntin mulai marah.
“Tapi mereka sangat menderita Auntin.Aku tidak tega melihat ibu tersiksa lagi.Aku mampu saja hanya membawa ibu dan meninggalkan ayah.Tapi ayah akan sendiri dan tidak  akan ada yang merawatnya.Dan menurutku kesengsaraan yang sudah beliau timbulkan  sudah terbayar dengan penderitaannya ketika ini.”diana beralasan.
“Apapun alasannya saya tetap tidak suka kalau mereka ada disini.”Auntin marah.
“Kenapa auntin begitu marah kalau orang tuaku ada disini.Aku rasa rumah ini cukup besar untuk kita tinggali bersama.Lagipula ayah itu kan kakak Auntin juga.”Diana mencoba meyela semua  perkataan Auntin.
“Karena beliau takut nak.”Ibu Diana yang sedari tadi kini angkat bicara.
“Tapi takut apa bu,apa Auntin takut kasih sayangku akan terbagi.Itu tidak mungkin,kasih sayangku kepada Auntin sangat besar dan itu sudah dari dulu dan tidak akan pernah berubah.”
“Bukan itu yang beliau takutkan,Diana.”Kilah ibunya.
“Lalu apa?”Diana tampak bingung.
“Rupanya kau belum tahu dongeng yang sebenarnya,Diana.”Ucap ibunya.
“Cerita apa?aku benar-benar tidak mengerti.”Diana semakin resah dengan teka-teki ibunya.
“Kau tahu diana,separuh dari dongeng Auntinmu ialah benar.Ibu memang telah dinodai oleh ayahmu dan kami pribadi menikah.Kau pasti tahu kelanjutannya kan? ya benar saya hamil.Tapi kau tidak tahu anak yang kukandung itu meninggal sebelum saya melahirkannya.”Ibunya menjelaskan.
“Apa.”Diana sungguh terkejut.Yang diceritakan ibunya begitu berbeda dengan yang diceritakan oelh Auntin.
“Jika anak pertama ibu meninggal,jadi saya ialah anak kedua ibu?”Tanyanya .
“Ya benar.Kau ialah anak kedua ibu tapi bukan anak kedua ayahmu.”Jawab ibunya.
“Apa?aku semakin tidak mengerti.Tolong ceritakan secara detail ibu.”Pinta diana.
“Sudahlah Diana.Dia pasti mengarang dongeng bohong.Sekarang cepat beri mereka uang dan usir dari sini.”Auntin tiba-tiba memutus keingin tahuan Diana.
“Tidak auntin,hari ini saya harus tahu semuanya.Agar saya tak akan salah faham lagi.”Diana melerai Auntinnya.
“Berhentilah menutup-nutupi fakta Fera.sekarang anakku sudah remaja untuk tahu semua ini.Biar beliau tahu siapa kau sebenarnya.”Ucap ibunya Diana kepada Auntin.
“Dengarkan baik-baik nak,semua yang akan  aku ceritakan ini ialah benar adanya.Setelah ibu keguguran terjadi komplikasi dengan ayahmu yang menimbulkan ia tidak mampu membuahi sel telur.Bisa dibilang ia mandul.Dan otomatis ibu tidak akan mampu hamil lagi.Tapi dimalam itu kejadian yang sama terulang dengan yang dilakukan ayahmu dulu.Ada yang memperkosa ibu hingga ibu hamil dan melahirkanmu.Dan kau siapa pria bajingan itu.Dia ialah suaminya  Fera.Fera  lebih dulu menikah daripada ayahmu.Namun sayang,  Fera  mandul.sedang suaminya tidak.Dan dialah otak dari ini semua.Dia yang menyuruh Eko, suaminya untuk memperkosa ibu hingga hamil.Ibu ingat betul wajah Eko.Walaupun dalam kegelapan saya dapat mengenalinya alasannya ialah beliau memiliki derap kaki yang menyeret dan benjolan di punggung kakinya.Dan saya segera melapor kepolisi dan beliau ditangkap tapi tidak dengan Fera,Eko begitu menyayanginya sehingga tidak hingga hati membawa nama Fera kepengadilan.Setelah kau lahir dan tumbuh dewasa,Auntin bermaksud untuk mengambilmu dari kami.Dan rencananya malam itu lagi-lagi mulus.Ia tahu kalau ibu hilang pasti ayahmu akan mencari ibu hingga ketemu.Dan karenanya ibu dan ayahmu dibuang ke India tanpa perbekalan apapun.Selama 9 tahun kami hidup terasing di India,tidak mengenal siapapun.Untung ibu dulu pernah sekolah diluar negri jadi ibu mampu sedikit beradaptasi,tapi ayahmu sama sekali tidak bisa.Jika kau tahu dari awal  cerita ini Diana,kau pasti sudah meninggalkan  Auntimu.”Cerita ibunya.

Diana masih tidak percaya dengan ini semua.Ia tidak habis pikir dengan Auntinnya yang tega berbuat menyerupai itu pada oarang tuanya.
“Aku bahkan tidak per  hiks...hiks pernah memimpikan ini.”Ucap Diana disela-sela tangisannya.
“Ibu,apakah ayah tau semua ini?”Tanya Diana.

Ibunya  mengangguk.Diana bergegas memeluk ayahnya yang sudah renta itu.Ayahnya yang duduk dikursi roda itu pun hanya mampu membalas pelukan  anaknya itu dengan tangisan.

“Aku salah mengenai ayah selama ini.”Ucap Diana melepaskan pelukannya.
“Tidak nak,ayahlah yang salah.Karena ayah kau dan ibumu  jadi sengsara.”Ayahnya mengelus rambut Diana.
“Apakah kau akan tetap menyayangi ayah  sperti dulu meskipun sudah tahu kebenarannya.”Tanya ayahnya .

Diana hanya mengangguk.

“Bagaimana dengan Auntin diana.?”tanya Auntinnya.
“Kau sudah sangat berjasa kepadaku sehingga saya dapat meraih ini semua.Kau tidak akan saya seret kepenjara.Kau masih kuperbolehkan tinggal disini,tapi saya tidak menjamin kasih sayangku dan cintaku akan sama menyerupai dulu atau hilang sama sekali.Karna sayangmu kepadaku juga membuat orang yang saya sayangi menderita.”Ucap Diana

Akhirnya Diana dan kedua orang tuanya bersama dan bahagia selamanya meskipun ada Auntin bersama mereka. 

***THE END***    
            
Profil Penulis:
nama:juliani
fb:akhuuw juliant
alamat:jl.selamat gg.mesjid no.29 (samping mesjid arafah) bromo ujung
sekolah:smk perpajakan indonesia. 
kelas:II

Rasa Yang Dibawa Oleh Hujan Karya Raga Nagori

RASA YANG DIBAWA OLEH HUJAN
Karya Raga Nagori

Aku belum pernah merokok sebelumnya. Karena itu, dikala asap panas yang menyesakkan ini turun melalui teronggokan, mekanisme tubuhku secara otomatis menolaknya dengan keras. Aku terbatuk hingga dada ini terasa ngilu. Namun, di dikala yang sama ada sensasi abnormal yang perlahan menjalar dari pangkal leher, perlahan merambat menuju dada. Sensasi cuek yang begitu ringan dan menenangkan. Sensasi itu kemudian merangkak naik ke kepala, merasuki otakku dengan pijatan-pijatan cuek yang menyenangkan. Kuhirup isapan kedua, dan saya terbatuk lagi. Namun, tak lama, sensasi yang sama kembali merasuki tubuhku, bahkan lebih kuat. Asap itu seakan melumerkan bongkahan-bongkahan kegelisahan yang mendesak di dada dan kepalaku, mensublimasikannya, dan kemudian membawa semua hanyut bersama hirupan nafas yang lain. Dapat kurasakan syaraf-syaraf di sekujur tubuh yang menegang mulai mengendor seiring dengan habisnya batang rokok putih ini.

Saat itu, gerimis mengguyur di langit kotaku. Gerimis itu yaitu jejak-jejak hujan angin yang menerpa kami dua jam terakhir. Aku selalu menyukai hujan, sama seorang penulis Indonesia yang pernah kubaca salah satu karyanya, M Aan Mansyur. Dalam karyanya, Lelaki Yang Terakhir Menangis di Bumi, tokoh utamanya mengatakan bahwa baginya hujan yaitu gadis kecil di langit yang sedang menangis alasannya yaitu kesepian. Sang Tokoh Utama ingin menghibur gadis kecil itu, dan perlahan menyadari bahwa ia jatuh cinta pada hujan, cinta pertamanya.Namun alasanku menyukai hujan agak berbeda dengan penulis itu. Aku menyukai hujan, alasannya yaitu di bawah guyuran air hujan, saya dapat mencicipi rasa sepi yang begitu menyakitkan. Bisakah kalian bayangkan perasaan itu? Rasa sepi yang menyakitimu. Rasa sepi yang membuat dadamu ngilu seolah ada sebilah pisau yang dihujamkan pada dadamu. Rasa sakit yang mebuat jantungmu berdetak lebih lambat, namun degupnya lebih keras seakan hendak merombak tulang rusuk. Ya, cobalah rasakan. Begitulah alasanku menyukai hujan, alasannya yaitu ia bisa menyakitiku dalam sepi.

Dalam gerimispun, masih dapat kucium anyir hujan yang tersisa di sela asap rokok yang masih mengepul dari mulutku. Cukup dengan aroma itupun, rasa sepi yang sakit itu kembali mengiris keberadaanku. Dari mana rasa sakit itu berasal? Begitulah rasa pensaranku membawaku terus hidup dalam bumi insan ini. Kenapa saya bisa menyukai sesuatu yang menyakitiku? Begitu pula tanyaku dikala masih kecil. Aku mencoba bertanya dengan kepolosan anak umur 10 tahun dikala itu pada  orang-orang di sekitarku, namun tak ada satupun dari mereka yang kutanyai mengaku bisa jatuh cinta pada rasa sepi, maupun rasa sakit. Jawaban mereka perihal sumber rasa sakit dari hujanpun mengambang dan tidak jelas. Beberapa dari mereka bahkan memberikan kesan tidak paham pada pertanyaanku. Begitu saja, dan kuakhiri petualanganku mencari tanggapan atas dua pertanyaan sederhana anak kecil usia 10 tahun. 

Namun, entah bagaimana, waktu perlahan menggiringku pada kejadian demi kejadian-yang tak sempat kuceritakan di kisah ini- dan jadinya membawaku pada sebuah hipotesa; alasanku menyukai sepi dan sakit yang di bawa hujan, yaitu alasannya yaitu saya yaitu insan yang berdosa. Hipotesa itu muncul pada pertengahan demam isu hujan Bulan Desember di atap fakultas, di bawah tangga menuju tandon air. Nah, sekarang tinggal satu pertanyaan  lagi.

TRING        !        
Nontifikasi chat ku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Kubuka dan kubaca dua baris kalimat pendek dari Yani, sahabatku dalam organisasi kampus,

Gimana problem Pak Sila? Kapan mau nyelesain problem dengan fakultas? Kita udah dikejar DL loo!!

Kumatikan screen smartphone dan kulempar benda itu ke keranjang cucian di dekatku. Konyol. Kuhirup kembali asap rokok itu; tinggal sisa sedikit, dan kuhembuskan kembali kepulan-kepulan putih ke udara. Kuresapi sejenak sensasi dingin, ringan, dan menenangkan itu semakin menjerat erat kepala dan tubuhku. Kurasa saya mulai mengerti kenapa banyak orang ketagihan dengan benda kecil ini.

“ Hujan itu keren lo...” Suara itu menggema dalam kepalaku : Suaraku. Gerimis itu menembus batas dimensi waktu dan menyeretku di dalamnya. Sepatah waktu dikala bersama perempuan itu, di sebuah senja di tepi Danau Kampus. 
“ Kenapa?”
“ Karena ia mirip pesan yang di sampaikan Langit pada Bumi. Kamu tahukan? Bumi dan Langit. Dua hal yang diciptakan untuk saling melengkapi, namun tak pernah saling menyentuh. Lalu, dengan hujanlah langit memberikan pesan pada Bumi...”
“ Tunggu, bukankah itu berarti komunikasi satu arah? Hanya Langit yang bicara, tidakkah itu egois?”

Aku menggeleng.

“ Bumi pun merespon pesan-pesan Langit, namun dengan bahasa yang berbeda, yaitu dengan kehidupan. Hujan dari Langit akan digunakan oleh Bumi untuk memunculkan kehidupan; hewan, pepohonan, dan kita. “

Perempuan itu membisu sesaat. Mengangguk-angguk seakan mengerti. Sesaat kemudian, ia kembali mengajukan pertanyaan,

“ Bagaimana dua orang bisa berkomunikasi bila menggunakan bahasa yang berbeda?”

Aku ingat, saya tersenyum pada dikala itu,

“ Bahasa apa yang lebih terperinci daripada karya?”

Aku ingat lagi, ia mencubit lenganku setelah itu.

Sejujurnya, saya tidak begitu yakin dengan potongan waktu itu. Entah kenapa, meskipun nyata, rasanya begitu jauh dari jangkauanku. Seakan ada dinding yang membatasi antara diriku dengan ingatan itu. Dan entah bagaimana pula, gerimis ini bisa membawaku padanya.

Setelah puas mencubitiku, perempuan itu bertanya lagi,

“ Kira-kira pesan apa yang disampaikan oleh Langit hingga Bumi meresponnya dengan kehidupan ya...?”

Pada dikala itu, saya tidak pribadi menjawab, kutatap langit yang semakin menua dan matahari yang semakin samar di balik awan. Setelah sejenak tenang dan membiarkannya menunggu, kujawab pertanyaan itu sambil menatap kedua matanya,

“ Rindu...”

Sekerjap, dapat kulihat warna merah menghiasi pipinya. Dia mengalihkan kedua matanya pada gerombolan belibis putih yang tengah asyik berenang di Danau. Setelah itu, keheningan menyesapi kami berdua.

Perempuan itu bukan kekasihku. Kami bahkan berbeda fakultas. Namun, semesta sudah menghimpitkan takdir kami semenjak SMA. Kami berdua juga berbeda angkatan. Tapi entah bagaimana, selalu ada yang bisa membuat kami bertemu. Pertemuan dengannya pun selalu menyenangkan. Paling tidak, di depannya saya merasa nyaman dan tak perlu bermanis-manis untuk sekedar berbicara atau bertingkah. Anehnya, itu semua berjalan begitu saja secara alami. Sejak pertama kali bertemu beberapa tahun yang lalu, dan hanya butuh sebentar untuk bisa membuka diriku padanya. Namun, tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiranku untuk meningkatkan korelasi kami. Mungkin jikalau dipikir-pikir, itu semua alasannya yaitu sesuatu dalam diriku sudah lama tercerabut, dan melenyapkan seluruh kemampuanku untuk mencintai seseorang lagi. Sesekali saya menggenggam tangannya. Ukurannya begitu mungil, terasa lembut, dan seakan rapuh setiap saya menggenggamnya. Sering kukaitkan jemariku dan jemarinya lalu kubimbing tangan mungilnya itu ke saku depan jaketku. Saat ia bertaya kenapa saya suka menggenggam tangannya, kujawab, “ Karena tanganmu mungil.” Begitu saja. Lalu ia diam.

Rasa Yang Dibawa Oleh Hujan Karya Raga Nagori

Kurasa sebaiknya, saya berkata jujur padanya, perihal pandanganku akan makna hujan kala senja itu. Tentang hujan yang memberikan kerinduan pada Bumi, lalu Bumi meresponnya dengan menciptakan karya berupa kehidupan. Kenapa? Karena semenjak senja dan malam ia bertanya alasanku menggenggam tangannya, kami semakin jarang bertemu.

********

Aku hanya bisa mendengar bunyi tangisnya. Suara tangis Yani, yang berderu-deru dari ujung telepon. Aku membisu mendengarkan, tak tahu harus merespon bagaimana. Tangisan perempuan, bahkan dari perempuan setomboy Yani, selalu dapat mengiris hati dan membungkam verbal lelaki. 

“ Aku bingung, kenapa saya bisa selemah ini...” Ujarnya di sela sesenggukan tangis. Saat itu pukul 11 malam. Aku sedang tiduran di kamarku, bersiap tidur. Namun kini, rasa lelah dan kantuk itu hilang sempurna. Kuputuskan untuk membiarkannya bicara terus dan menumpahkan air mata sebanyak mungkin, alasannya yaitu saya percaya, tidak ada yang lebih ampuh menghilangkan rasa duka selain air mata. 
“ Pernahkah kau begitu merasa bersalah pada orang-orang di sekitarmu, hingga membuatmu tak sanggup wajah mereka?”
“Pernah.”

Aku teringat pada delapan sobat yang telah begitu kucewakan. Sebuah kesalahan konyol dari tindakan biadabku. Aku kehilangan mereka semenjak itu, dan saya juga telah kehilangan sebagian diriku. Sebuah lubang besar, jauh didalam diriku. Akupun tersadar semenjak kapan saya begitu rapuh. Dan hingga kini, saya tak memiliki cukup keberanian untuk menemui mereka, dan menambal lubang besar tersebut.

“ Aku tidak tahu apa yang harus saya lakukan.... Aku..aku... bahkan tidak tahu kenapa saya merasa begitu lemah sekarang. Aku hanya bisa berdoa dan memohon ampun, sambil berharap saya memiliki cukup keberanian untuk bertemu dengan mereka...”

Aku masih melongo dikala itu. Baru setelah melihat momen yang tepat untuk bicara, saya mencoba angkat bicara.

“Kuatlah. Puaskan air matamu. Aku yakin kau cukup berpengaruh menghadapi itu...”

Setelah itu, kami saling mengucapkan salam, dan ia menutup telponnya. Saat itu masih bulan September, dan anyir demam isu hujanpun bahkan belum tercium. Namun, saya sudah bisa merasa hawa cuek dan bunyi gerimis yang membawaku pada sepi yang sakit.

Kuhembuskan hisapan terakhirku ke udara. Gerimis masih mengguyur lembut, namun kelabu mulai berkembang menjadi putih di langit. Kumatikan rokok dengan menggesek-gesekkannya pada paving halaman belakang. Kupejamkan mataku, dan kucoba meresapi semua hal tidak beraturan yang kualami selama ini. Kejadian-kejadian acak yang silih berganti datang.

Tidak.

Mendadak mirip ledakan sebuah bom, seberkas cahaya kecil yang mendadak muncul dari kegegelapan diriku dengan cepat membesar dan berkembang menjadi menjadi sebuah suar besar dengan cahaya putihnya, memenuhi kegegelapan dengan terangnya. Mendadak, seiring dengan ledakan cahaya dalam diriku, gerimis kembali berkembang menjadi menjadi hujan, dan rasa sepi yang menyakitkan itu kembali menjalari diriku. Tanpa bisa kutahan, seulas senyum terbentuk di bibirku.             

Darimana rasa sakit ini berasal? Dan bagaimana saya bisa menyukai hujan alasannya yaitu rasa sakit yang ia datangkan padaku? Semuanya menjadi begitu jelas. Setidaknya, dari sekedar hipotesis, kini ia naik satu tingkat menjadi sebuah thesis. Pernyataan yang kuat. 

Semuanya, alasannya yaitu saya yaitu insan berdosa. Seorang pendosa, yang selalu melihat segalanya dari sisi seberang. Melihat dari balik pagar, dan mengingikan apa yang tidak ia miliki. Beginilah seharusnya seorang pendosa.

Aku menghela nafas panjang dan lega. Kuusap wajahku dengan kedua tangan yang masih menjejak warna merah pekat. Kutatap langit sejenak dengan senyum terima kasih. Kuambil smartphone ku, dan sambil melangkah masuk, kubuka chat untuk perempuan dari senja di tepi danau itu, kuketik dengan penuh khidmat,

Maaf kalau sudah membuatmu terluka. Aku suka dengan setiap jejak kecil keberadaanmu. Karenanya, saya suka menggenggam tanganmu, untuk tetap memastikan keberadaanmu di sampingku.

Kirim.

Kuketikkan beberapa kalimat lagi,

Tapi tanganmu memang kecil kok. Itu alasan plus kenapa saya suka menggenggamnya

Kirim.

Kuhentikan langkahku tepat di depan pintu kawat pemisah halaman belakang dengan ruang keluarga. Kutatap sejenak layar smartphone ku. Lalu kuputuskan menambah sebuah kalimat,

Oya, soal Langit dan Bumi waktu itu, ternyata saya benar-benar mengatakan hal yang sebetulnya lo. Aku gres sadar ternyata kerinduan benar-benar bisa menciptakan kehidupan. Kamu tahu, kan? Saat kita rindu, kita mencicipi sakit, dan dari rasa sakit itu, kehidupan bisa lahir hehehe

Kirim.

Kulempar smartphone itu ke bangku ruang keluarga yang sudah patah akhir pergulatan kecilku dengan lelaki berbadan besar beberapa jam tadi. Sepi yang ganjil merasuki rumah, sementara hujan terdengar semakin bergemuruh menerpa. Lelaki berperut buncit itu kini tengah membisu dengan posisi telungkup. Sebilah pisau dapur yang biasa dipakai Ibuku untuk mencincang daging masih tergeletak di atas rak kecil dengan ruang keluarga, warna merah itu masih membasahi bilah tajamnya, meskipun warnanya jadi lebih pekat daripada dikala saya pertama kali menancapkannya di dada buncit dan leher pria itu. Aku memandanginya beberapa saat. Lalu, mataku bergerak dalam gelap ruangan yang semakin menakutkan, beralih menuju tubuh Ibuku yang juga tergeletak dengan lubang bacokan di dadanya. Aku bukan anak kedokteran, tapi kukira pasti tepat di jantung. Darahnya pun sudah berubah merah pekat. Seluruh ruangan, nyaris berubah merah akhir mereka. Ya... meskipun saya tak perlu membersihkannya sih Aku sudah tak punya hak untuk menghakimi mereka, perbuatan mereka. Sebab, kami hanyalah sesama pendosa. Aku, Ibuku, dan laki-laki buncit itu. Semua sama saja. 

Bagi para pendosa, hanya dalam hujan yang membawa rasa sepi nan menyakitkan, kami bisa mencicipi cinta.   

Profil Penulis:
Nama   : Raga Nagori